Rabu, 27 Mei 2015

Membangun Lingkungan yang Mencerdaskan Anak dari dalam Rumah

Resume Kulwap IIP Mesir 1
Jum'at, 25 April 2015

Host: Bunda Hazqel
Co host: Husna Hayati
Admin: Aminah Nurfida

Tema: Membangun Lingkungan yang Mencerdaskan Anak dari dalam Rumah

Biodata narsum:
Nama :
Kiki Barkiah
Lahir :
Bandung, 29th yang lalu
Status :
Menikah dengan Aditya Irawan
Ibu dari Ali, Shafiyah, Shiddiq, Faruq, Fatih

Pendidikan terakhir :
Teknik elektro ITB

Aktivitas saat di Indonesia :
Pengusaha dari rumah

Aktivitas saat ini :
��Homeschooler 5 anak (SMP, SD, TK, Pre School dan bayi)
��Ketua yayasan al kindi batam (komunitas homeschool, rumah tahfidz, dan day care)
��Pengasuh group parenting FOCER (forum curhat emak rempong)
��Pengasuh dan penyiar program siaran Ibu Indonesia Berbagi di radiopengajian.com
��Hobby menulis status parenting di facebook

Motto :
Berjuang dan berusahalah, berikan yang terbaik untuk ummat meskipun kamu harus berkorban

Alamat :
San Jose, California
[06:31, 25/04/2015] Kiki Barkiah WA: Membangun Lingkungan yang mencerdaskan anak dari dalam rumah

Oleh Kiki Barkiah

Semua orang tua pasti bahagia jika memiliki anak-anak yang cerdas. Sayangnya sebagian diantara mereka menganggap bahwa salah satu jalan mencerdaskan anak adalah dengan menyekolahkan anak sedini mungkin. Padahal masa-masa pengikatan hubungan anak dan orang tua yang paling berharga dan menjadi modal besar bagi hubungan mereka di masa yang akan datang adalah kedekatan di masa -masa awal tumbuh kembang mereka. Sekolah memang salah satu sarana mencerdaskan anak, namun bukan berarti proses mencerdasakan anak tidak dapat dilakukan diluar bangku sekolah.

Saat ini berbagai produk-produk edukasi mulai berjamur di masyarakat dan menginspirasi para orang tua untuk mengisi waktu yang berkualitas dengan anak-anak mereka. Berbagai pengetahuan kognitif mulai diberikan sedini mungkin bahkan tak jarang para ibu berbayi disibukkan dengan membacakan kartu belajar kepada bayi-bayi mereka.

Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Sebelum kita membahas proses, tentunya kita harus dapat mendefinisikan kecerdasan yang kita ingin raih dari proses yang kita dilakukan. Menyimpulkan dari beberapa definisi cerdas yang ditulis para ahli, kecerdasan yang sebaiknya kita bangun dalam diri anak-anak diantaranya:
1. Kemampuan menyimpan informasi dalam memori
2. Kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
3. Kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
4. Kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
5. kemampuan untuk memecahkan masalah
6. kemampuan untuk menciptakan hal baru
7. kemampuan untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru

Dari point diatas dapat jelas terlihat bahwa yang lebih penting dalam sebuah proses belajar adalah bagaimana ilmu itu dapat berbuah amal. Bagi seorang muslim kecerdasan yang dibangun dengan definisi diatas belumlah sempurna. Dalam sebuah hadist disebutkan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah)

Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Bertapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian.

Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia. 

Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih bagi anak-anak kita, baik itu pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal seperti melalui kursus dan pelatihan, ataupun pendidikan di dalam rumah yang kini terkenal dengan istilah home education dan homeschooling, upayakanlah agar proses itu menjadi proses pendidikan yang mencerdaskan. 

Sebagian besar orang tua tidak menyadari bahwa hal-hal yang terlihat sepele atau yang biasa terjadi didalam lingkungan rumah adalah proses pendidikan yang menentukan kecerdasan. Sebagian dari mereka berfikir bahwa membangun kecerdasan dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi yang bersifat memberi tambahan pengetahuan kognitif. Bahkan sayangnya mereka cenderung disibukkan dengan proses belajar membaca, menulis dan menghitung. Sehingga tidak jarang kita melihat anak-anak pintar yang berprestasi di sekolah masih manja dan tidak bisa memenuhi keperluan dirinya.

Hal yang jauh lebih penting dalam mempersiapkan anak-anak usia pra sekolah bukanlah kemampuan mereka dalam membaca, menulis dan berhitung namun  mempersiapkan mereka memiliki perilaku dan sikap yang baik dalam belajar sehingga terbangun kepribadian manusia pembelajar dalam diri mereka.

Sikap yang perlu dibangun untuk melahirkan anak-anak yang cerdas pada awal-awal usia kehidupan mereka yang jauh lebih penting daripada memberikan pengetahuan kognitif, diantaranya:

1. Anak dapat menunjukkan semangat dan rasa ingin tahu sebagai seorang pembelajar
2. Anak memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
3. Anak bersikap menyenangkan dan kooperatif dalam kegiatan belajar.
4. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan satu atau lebih anak-anak
5. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
6. Anak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
7. Anak dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
8. Anak bersedia bergiliran dan berbagi mainan
9. Anak dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
10. Anak dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
11. Anak dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
12. Anak dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
13. Anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
14. Anak dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
15. Anak dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
16. Anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
17. Anak mendengarkan dengan antusias saat dibacakan buku
18. Anak dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
19. Anak dapat menunjukan urutaan cerita melalui gambar secara logis
20. Anak dapat bermain peran dengan benda-benda
21. anak dapat mengambil peran dalam permainan berpura-pura

Adapun berbagai pengetahuan kognitif yang dapat kita sampaikan kepada anak anak usia pra sekolah diantaranya:

Huruf
1. Mengenalkan huruf
2. Mengidentifikasi huruf besar
3. Mengidentifikasi huruf-huruf kecil

 Logika Matematika
1. Pola dan hubungan berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran
2. pengelompokan benda
3. Mengenali pola sederhana dan menduplikasi pola

Konsep angka dan operasi
1. menghitung sampai 20
2. menghitung benda dalam kisaran jumlah 10
3. Mencocokan angka
4.Mengidentifikasi angka secara simbolik 0-10

Geometri dan hubungan spasial
1. Mengidentifikasi 4 bentuk- lingkaran, persegi, persegi panjang, segitiga
2. Menunjukkan konsep posisi / arah, konsep (atas / bawah, di atas /di bawah, didalam/ diluar, di belakang / di depan, di samping / di antara,  tinggi / rendah, kanan / kiri, nyala / mati, pertama / terakhir, jauh / dekat, maju/berhenti).
 
Pengukuran

1. Menunjukkan pemahaman dalam menggunakan kata-kata pembanding (besar / kecil, pendek / panjang, tinggi / pendek, lambat / cepat, sedikit / banyak, kosong / penuh, kurang / lebih.

Keterampilan motorik kasar

1. Dapat menggunakan dan mengendalikan sepeda roda tiga
2. Melompat di tempat dan mendarat dengan dua kaki
3. Dapat berdiri dengan satu kaki selama 5 detik
4. Melompat dengan 1 kaki 2-3 kali lompatan
5 Melempar bola dengan arah
6. Menangkap bola  yang dilempar dengan tangan
7. Memanjat tangga bermain
8. Melompat dengan lancar selama 20 kaki
 
Keterampilan Motorik halus

1. Menumpuk  sampai 10 balok
2. Meronce manik manik besar
3. Melengkapi puzzle tujuh potongan
4. Membuat pancake, ular, dan bola dari plastisin
5. Memegang pensil dengan benar
6. Menyalin garis vertikal, garis horizontal, lingkaran, persegi, V, segitiga
7. Menulis nama depan
8. Menulis nama depan tanpa contoh
9. Memegang gunting dengan benar
10. Potongan dalam garis lurus di atas kertas konstruksi
11. Memotong persegi di atas kertas konstruksi
12. Memotong segitiga di atas kertas konstruksi
13. Memotong lingkaran  di atas kertas konstruksi
14. Menggunakan lem dan menempel tepat
15. Menggunakan lem dalam jumlah yang tepat saat mengerjakan tugas-tugas
 
Semua materi diatas sifatnya hanya  pengenalan. Mungkin ada beberapa anak yang mudah menwrima konsep tersebut tapi ada juga  yang membutuhkan waktu. Proses tersebut dapat terus kita lanjutkan sedemikian hingga diharapkan anak anak telah memiliki pencapaian berikut diakhir usia TK:

1. Anak dapat mengikuti aturan kelas
2. Anak dapat terpisah dari orang tua atau pengasuh dengan mudah
3. Anak  bersedia melakukan sesuatu secara bergiliran
4. Anak dapat memotong menggunakan gunting mengikuti garis
5. Anak telah menentukan tangan mana yang secara dominan
6. Anak memahami konsep-konsep waktu seperti kemarin, hari ini, dan besok
7. Anak dapat berbaris dengan tertib
8. Anak dapat menyetujui dan mengikuti petunjuk dengan mudah
9 Anak dapat berkonsentrasi selama 15 sampai 20 menit
10. Anak dapat memegang krayon dan pensil dengan benar
11. Bersedia berbagi mainan dan alat belajar 
12. Mengetahui 10 warna dasar: merah, kuning, biru, hijau, oranye, hitam, putih, dan pink, coklat, ungu
13. Anak dapat mengenali dan menulis huruf-huruf alfabet dalam bentuk huruf besar dan huruf kecil
14. Anak dapat mengetahui hubungan antara huruf dan suara yang mereka buat
15. Anak diharapkan dapat mengenali kata atau membaca kalimat sederhana
16. Anak dapat mengeja atau menulis nama lengkapanya
17 Anak dapat menceritakan kembali cerita yang telah dibaca dengan suara keras
18 anak dapat menyampaikan pendapat melalui menggambar, menulis, atau berbicara
19 Anak dapat mengidentifikasi dan menulis angka 0-20
20. Menghitung dengan satuan dan puluhan hingga 100
21. Menyelesaikan soal penjumlahan sampai dengan 10
21. Menyelesaikan soal pengurangan dengan angka 0-10
22. Mengetahui bentuk dasar seperti persegi, segitiga, segi empat, dan lingkaran
23. Mengetahui alamat dan nomor telepon nya untuk keperluan keamanan diri
24. Anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan gerak tubuh (seperti senam atau tari) dalam kelompok
25. Anak dapat menggunakan berbagai bahan-bahan seni untuk pengalaman eksplorasi
 

Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:
1. proses menamkan kecintaan kepada buku dan ilmu
2. Melatih kemampuan anak dalam memahami isi bacaan.
3. Memperluas kosakata melalui kegiatan membaca
4. Memperluas wawasan melalui kegiatan membaca

Ketidskbijaksanaan dalam.mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurang tepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.

Dari pemaparan diatas ternyata proses menciptakan lingkungan yang mencerdaskan anak menjadi sangtlah sederhana. Orang tua yang ingin melakukan homeschooling di usia dini tidak perlu terlalu panik dalam menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran. Dalam pendapat penulis yang dibutuhkan dalam usia awal-awal kehidupan mereka hanyalah sebagai berikut
1. Perbanyak menyusui secara langsung tanpa bantuan botol
2. Perbanyak diskusi tentang lingkungan sekitar
3. Perbanyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari
4. Perbanyak melatih mereka melakukan keperluan dirinya sendiri dan menyelsaikan masalah yang mereka hadapi
5. Perbanyak kegiatan membaca buku bersama mereka ean mendiskusikan isi bacaan
6. Perbanyak olahraga bersama mereka
7. Perbanyak melakukan kegiatan bermain aktif
8. Perbanyak cinta dan kasih sayang
9. Perbanyak membaca al quran sejak dalam kandungan
10. Perbanyak doa dan sedekah, insya Allah

Referensi
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Intelligence
http://www.greatschools.org/students/academic-skills/1207-kindergarten-benchmarks.gs
http://www.icanteachmychild.com/71-things-your-child-needs-to-know-before-kindergarten/
Miseducayion preschool at risk; David Elkind

✏ sesi tanya jawab ✏
1⃣Assalamualaikum
Sebenarnya berapa batasan umur yg tepat yg dimaksud dg umur pra sekolah tk dan sd? irda
1⃣ Allahualam tp kalo di california ada batasan hari lahir terakhir dimana anak wajib didaftarkan masuk kinder. Sepeeti misalnya yh berusia 5 tahun sebelum 2 sept. Nah dibawah usia tersebut biasany dikenal dgn usia pea sekolah. Disini ada preachool 3 tahun dan 4 tahun juga  ada transisional kindergarten untuk mereka yg sdh 5 tapi bulan lahirnya di akhir akhir sehingga gak bisa masuk kinder di tahun tsb✅

2⃣Selaku praktisi home schooling divluar negri, kurikulum apa yang teh kiki berikan utk anak2? Apakah teh kiki dan suami membuat kurikulum sendiri,mengikuti kurikulum di Indonesia atau Amerika atau lesson plan online?
Kemudian, apakah anak2 mempelajari semua pelajaran yang ada seperti di sekolah atau hal2 yang mereka sukai menurut passion anak2 sja? Fida.

2⃣Saya pakai kurikulum amerika dan ikut sekolah virtual tp dalam.pelaksanaannya krn ada anak yg kurang suka dgn lesson plan yg disediakan jadi djlapangan kurikulum itu saya modifikasi dengan metode yang lebih menantang bagi anak saya sehingga yg betuk betuk dilaksanakan sesuai dengan arahan hanya pada lesson plan yg harus dikumpulkan seperti portfolio dan assestment✅

3⃣Bagaimana menyikapi kalau sedang proses belajar mengajar di rumah, ada tamu yang datang. Atau kalau di indonesia teman anak anak datang mengajak bermain. Umi maryam
3⃣Tidak bisa mbak harus sepeeti orang bekerja. Tentikan waktu kapan kita bekerja untuk homeachooling dan kapan bisa  menerima tamu. Sampaikn sajja kami homeschooler✅

4⃣ untuk melaksanakan homeschooling.kira kira langkah awal dan persiapan apa saja yg harus di lakukan?ada beberapa pendapat yg mengatakan dengan homeschooling anak anak kurang bersosialisasi.bagaimana menurut ibu kiki dg ini?menurut ibu kiki nilai positif yg besar di dapatkan dwngan praktek homeschooling ini kira kira apa ya bu?(Saya ada kecendrungan dengan homeschooling cuman masih dalam tahap kaji mengkaji dulu segi negatid positifnya bu..jd saya lagi mengummpulkan info tentang homeschooling).makasih sebelumnya bu..retno
4⃣ kayaknya yg paling penting sebelum menjalankan hs adalah mengumpulkan niat dan alasan kenapa memilih HS, Krn hs itu berat. Kalo kita kuat niatnya insya Allah nanti pas lelah dan hampir mwnyerah akan kembali pada niat tsb. Lalu setelah itu kita pilih mau dibawa ke arah mana HS kita. Pelajari gaya belajar anak juga pelajari kemampuan diri kita dan gaya mengajar kita. Setelah itu tentukan kurikulum apa yang mau dipakai, beli buku yang cocok dengan gaya belajar anak lalu sering googling untuk bahan ajar. Untuk tahap awal bisa dimulai dengan semi hs, pura pura hs. Liat perkembangannya, apakah enjoy tidak kedua belah pihak.
Menurut saya kekurangan hs itu cuma satu, tidak bisa merasakan suasana keteraturan dan kekakuan sekolah. Tp fleksibilitas ini yg sebenernya menjadi kekuatan utama hs.
Soal sosialisai gak masalah karena sosialisasi itu gak harus dalam sekolah, ortu bisa menyediakannsaeanan sosialisaai lain bahkan bisa lintas usia. Yg lwbih pwnting justru mengajarkan adab dalam bersosialisasi sebelum twrjun pada sosialisasi apa adanya yang belum tentu memberi pwngaruh positif.
Nilai posirif dr hs itu banyak salah satu yang paling unggul adalah kita bisa memilih cara terbaik yang paling pas untuk kita dalam mencapai sebuah tujuan yang sama. Kelebihan jedua adalah waktu yang lwbih sibgkat memungkinkan kita untuk menggunakan sisa waktunya untuk mwmpwlajari hal hal yg ingin kita pelajari✅

5⃣Assalamu'alaikum teh.. Mohon di share pengalaman teteh mengajarkan anak bergaul dgn org asing (Fransisco). Sy ingin sekali anak bergaul atau paling tidak berbahasa arab (karena domisili sekarang di Mesir) agar paling tidak ada "atsar baik". Namun melihat kondisi anak yang terlihat agak antipati trhadap anak kecil Mesir.. Jadi sy bingung menerapkan keinginan ini.  _ulfia
5⃣Untuk bergaul mmg harus dilibatkan dalam sebuah sarana. Entah itu sekolah atau tempat kursus. Kalo anak anak masuk sekolah 3 bulan juga udah cepet bisa bahasa inggris. Krn dibantu video pembelajaran juga kan dlm english  tp sekarang anak anak hanya ikut sekolah akhir pekan. Cukup lah buat bergaul dan mengasah bahasa. Intinya hak bisa dikurung dirumah terus harus ada sarana interaksi walau kita hanya milih sekali seminggu✅

6⃣Teh kiki.. menanggapi jawaban dari pertanyaan nmr 2 jg, sekolah virtual yg menurut teh kiki bagus yg katagorinya seperti apa? Atau mungkin bisa direkomendasikan yg sudah teh kiki sekeluarga ikuti�� - Fida.
6⃣saya ikut connection academy. Ada yg katanya bagus calvert school tp mahal sekali biayanya. Saya gratis krn tinggal di indo. Saran saya beli buku saja, nanti kembangin dr buku. Lessonplan dr mereka yg sekuler belum tentu cocok kok sama keluarga muslim. Saya banyak modofikasi sendiri. Saya sih suka buku buku keluaran penerbit mc graw hill dan pearson✅

7⃣Boleh tau kapan mbak kiki menyiapkan lesson plan untuk anak2? Apakah setiap hari/minggu/bulan?
Sya pernah baca juga kalau teh kiki menyiapkan menu untuk seminggu sekaligus. Berarti mbak langsung masak besar dgn berbagai menu dlm sehari ya? Betul begitu? Nayra
7⃣saat ini saya sdg tidak menyiapkan lesson plan krn saya ikut sekolah virtual. Jd lesson plan sudah disajikan hanya saja sering saya modifikasi di lapangan menyesuaikan minat anak anak. Sebenernya mengikuti buku juga kalo bukunya bagus juga cukup. Ditambah kalo bukunya beragam jd bisa dikompilasi yang cocok. Kalo buat lesson plan dr awal berat ya.
Saya gak masak mingguan saya cuma bumbuin mingguan. Sudah di pack per porsi jd tinggal panggang atau goreng atau tumis✅

8⃣Teteh, menyambung jawaban tth no.2, kegiatan yang menantang itu seperti apa? adakah buku atau web yang direkomendasikan untuk dijadikan rujukan? Karena kadang2 saya kehilangan ide memunculkan kegiatan lain ketika anak bosan atau tidak tertarik dgn kegiatan yg kita sodorkan?
-Neng-
8⃣kalo kegiatan itu bisa di googling dgn keyword activity for kids, art and craft for kids, coockibg for kids, outdoor games for kids, science experiment for kids. Tp biasanya yg susah itu tenaga kita untuk ngejainnya hehe✅

9⃣Mengenai pembelajaran melalui multimedia (video edukatif), berapa lama waktu yang diperbolehkan teh? Karena saya pernah baca, menonton bagi anak itu kurang baik meskipun itu video edukatif? -Ummu Yusuf-
9⃣Untuk anak dibawah 2 tahun tidak disarankan menonton multimedia. Krn pergerakan gambar yang cepat dapat membahayakan otak. Kalo durasinya kira kira sekitar 30 menit setwlah itu kita bisa jeda dgn aktifitas lain. Kalo anak terus terusan via multimedia biasanya berkurang naluri untuk bereksplorasinya. Sehingga bereksplorasi bahkan bermain bebas tanpa diarahkan temanya itu penting untuk anak✅

��Ada beberapa point yg tth tulis mngenai kecerdasan anak dlm usia awal2 mereka, sbgi contoh diantaranya mampu berinteraksi dengan sesamanya, atau dengan orang yg lbih dewasa, berbagi mainan dengan orang lain.
Nah, yang saya tanyakan, ada fase2 dmn anak ga mau berinteraksi dengan orang yang belum dikenalnya, atau fase merasa seluruh mainan itu miliknya, atau merebut punya  . Apkah kita fahami bahwa hal itu lumrah karena masih anak2, jika fasenya sudah berlalu maka akan membaik? Atau perlu kita stimulus?
Maaf kepanjangan teh.. -Radhia-
��itu lumrah sekali, ada masa mereka blm mengerti kepemilikan dan konsep sharing. Ada masa mereka masih blm berani bertemu dgn org lain  solusinya cuma terus di coba dan diajarkan konsep berbagi. Walau butuh waktu untuk mereka mengerti. Seringnya kita memaksa anak besar untuk mengalah. Padahal anak yg lebih kecil lebih mudah luoa dan dialihkan sehingga jangan sampai kita mengabaikan hak anak yg besar dan tdk menghargai kepemilikannya . Mengatur sistem agar anak tidak beresiko berebutan juga menjadi solusi yg bijak ubtuk pengasuhan anak anak balita✅

Selasa, 19 Mei 2015

Persiapan batin untuk proses persalinan

Proses persalinan merupakan pengalaman mental yang luar biasa dan tidak
mungkin dilupakan atau terlupakan. Ini
terbukti ketika Anda coba bertanya
kepada ibu Anda bahkan Nenek Anda
tentang sejarah atau kisah persalinan
mereka. Mereka akan dengan detail
mampu menceritakan dan
menggambarkan tentang pengalaman
melahirkannya. Apalagi ketika mereka
mengalami trauma atau mengalami
sesuatu yang sangat berkesan baik
dalam konteks positif maupun negatif.
Sehingg seringkali saat Anda bertanya
tentang kisah persalinan mereka justru
Anda akan mendapatkan wejangan-
wejangan khusus dari mereka berkaitan
dengan proses tersebut.
Untuk itulah maka sangat penting bagi
anda untuk mempersiapkan mental dan
spiritual untuk menghadapi proses
persalinan nanti. Ada beberapa sikap
dasar yang harus Anda miliki sebagai
calon ibu.
1. Pikiran Awal/pemula (Beginner’s
Mind)
Dari semua aspek dalam proses
persalinan yang terjadi pada setiap
orang, pengalaman persalinan Anda
adalah milik Anda sendiri yang mana
pengalaman persalinan Anda tentu saja
berbeda dengan pengalaman persalinan
ibu yang lain. Bahkan pengalaman
persalinan Anda yang pertama tidak
akan sama dengan pengalaman
persalinan Anda yang kedua atau
seterusnya. Dan pengalaman persalinan
tersebut bisa saja berbeda dengan apa
yang Anda baca, Anda lihat di TV
maupun video. Persalinan Anda adalah
unik. Jadi pemikiran inilah yang harus
mengawali dan menjadi dasar dalam
pikiran dan hati Anda. Sehingga jangan
sampai anda mengandalkan rumus
“KATANYA”, yaitu katanya si A
begini......, lalu katanya si B begitu....
dan seterusnya. Ingat Anda harus
mengingat bahwa persalinan setiap
manusia itu berbeda karena manusia itu
unik.
Pikiran Awal/pemula (Beginner’s Mind)
hampir sama dengan pikiran tidak tahu
atau “don’t know mind”. Kita tahu
bahwa selama proses kehamilan
terkadang kita menemui beberapa
kejadian yang tidak di harapkan.
Contohnya ketika Anda melakukan test
laboratorium ditemukan bahwa Anda
menderita anemia atau sesuatu yang
lebih serius misalnya mengidap virus CMV
(Cytomegalovirus). Atau mungkin tiba-
tiba di umur kehamilan 32 minggu posisi
janin Anda menjadi sungsang, dimana
hal ini memungkinkan sebuah jawaban
yang tidak diharapkan ketika muncul
pertanyaan bagaimana cara bayi Anda
dilahirkan nanti. Seringkali kejutan demi
kejutan terjadi pada saat proses
persalinan dan kejutan tersebut
terkadang tidak dapat Anda hindari,
contohnya jika tiba-tiba selaput ketuban
Anda pecah dan Anda mengalami
Ketuban Pecah Dini, atau kejutan yang
Anda alami saat tiba-tiba Anda merasa
ingin mengejan padahal belum
pembukaan lengkap
Pikiran awal atau beginner mind
membuat kita lebih siap menghadapi
segala kemungkinan yang bisa saja
terjadi dalam persalinan nanti, dimana
dalam pikiran ini kita dapat menyadari
harapan dan harapan kita akan proses
persalinan tanpa harus terpaku kaku
dengan harapan-harapan tersebut,
apalagi terobsesi. Dalam arti bahwa
ketika Anda sudah mempersiapkan
segalanya dengan sebaik-baiknya maka
saat persalinan adalah waktunya untuk
pasrah, ikhlas dan tenang.
2. Tidak menghakimi (Non-Judging)
“Pasti bakalan terasa sakit sekali!”
“Sepertinya aku tidak bakalan kuat
menahan rasa sakit yang katanya orang
benar-benar luarbiasa!”
“Aku terlalu gemuk, pasti aku kesulitan
saat melahirkan nanti”
Apa yang kita pikirkan seringkali
merupakan reaksi dari pengalaman hidup
kita yang lalu. Kita bisa saja dengan
mudah dan cepat menghakimi atau
menilai sesuatu apakah itu sebagai hal
yang baik atau buruk ketika kita
menemukan bahwa itu menyenangkan
atau menyakitkan. Dan beberapa kalimat
di atas adalah kalimat-kalimat penilaian
dan penghakiman terhadap diri sendiri
yang seringkali ada di dalam pikiran dan
hari Anda.
Ketika pemikiran tentang penghakiman
atau penilaian tersebut terus ada dalam
hati dan pikiran Anda, maka hal ini akan
sangat berdampak hingga proses post
partum (paska melahirkan) nanti, dimana
ini justru membuat Anda berpotensial
menderita depresi post partum. Karena
dengan adanya pemikian tersebut bisa
saja Anda selalu menyalahkan diri Anda
atas beberapa kejadian yang mungkin
saja tidak mengenakkan dan
menyakitnyan yang Anda alami.
Bunda Fathya adalah seorang ibu yang
mempunyai masalah berat badan
berlebihan sejak sebelum dia hamil.
Ketika dia melakukan pemeriksaan
kehamilan di Bidan Kita, sejak awal dia
sangat khawatir dengan kondisinya
karena menyadari bahwa badannya
besar dia menilai bahwa dia tidak
bakalan bisa melahirkan secara normal
alami, karena tubuhnya yang besar
tersebut bisa saja membuat kesulitan
demi kesulitan terjadi saat proses
persalinan. Saat itu saya sangat maklum
dengan apa yang dirasakan bunda
Fathya. Karena memang berat badannya
hampir mencapai 95 kg di usia kehamilan
20 minggu. Namun saat itu bunda Fathya
saya ajak untuk mengikuti kelas
persiapan persalinan dengan program
balance gentle birth di klinik Bidan Kita.
Selain belajar untuk lebih tenang dan
optimis, bunda Fathya juga saya
motivasi untuk rajin melakukan prenatal
yoga. Sehingga tulang belakang dan
kakinya kuat serta pinggulnya lebih
lebar. Ketika berada di kelas prenatal
yoga untuk pertama kalinya, memang
bunda Fathya lumayan minder karena
tubuhnya yang paling besar diantara ibu
yang lain dan gerakannya paling kaku
dan sulit di banding ibu yang lain.
Namun saat itu semua ibu-ibu dan saya
menyemangati bunda Fathya sehingga
muncul dalam pikirannya bahwa dia lebih
percaya diri, dan menganggap bahwa
kondisi tubuhnya ini adalah sebuah
kesempatan dan peluang serta
tantangan untuk berlatih lagi dan lagi.
Hingga akhirnya bunda Fathya bisa
melahirkan dengan normal dan lancar
padahal berat badan bayinya cukup
besar.
Nah untuk itu, ketika Anda hamil, jangan
pernah menghakimi diri sendiri dan
seolah-olah memberikan sugesti negatif
kepada diri sendiri dengan menilai dan
menghakimi.
3. Sabar (Patience)
Sabar adalah modal utama dalam proses
kehamilan dan dan persalinan. Dan
melalui proses ini jugalah saya belajar
banyak tentang arti kesabaran.
Sabar adalah ketika Anda harus
menunggu tanda-tanda persalinan
datang padahal hari perkiraan lahir
sudah terlewati dan semua orang sudah
menayakan kepada Anda tentang kapan
Anda melahirkan.
Sabar adalah ketika Anda harus
menunggu selama 40 minggu bahkan
lebih untuk bertemu dengan buah hati
Anda
Sabar adalah ketika pembukaan berjalan
begitu lambat dan terasa tidak nyaman
Sabar adalah ketika Anda merasakan
kontraksi demi kontraksi yang tak
kunjung usai.
Ya sabar, sabar dan sabar adalah hal
pokok yang harus dimiliki seorang calon
ibu, calon bapak juga oleh bidan maupun
dokter. Saya seringkali menggambarkan
bahwa sabar adalah ketika saya harus
mengawasi, mengobservasi dan
menunggu. Dimana saya harus bersabar
untuk tidak melakukan intervensi yang
tidak perlu ketika pembukaan klien tidak
sesuai dengan teori yang ada. Dimana
saya harus bersabar untuk tidak
memberikan induksi ketika hari perkiraan
lahir sudah terlampaui.
Dan saya selalu mengatakan kepada
klien saya bahwa sabar adalah pelajaran
yang di dapat dalam proses persalinan,
karena jika Anda tidak sabar,
bagaimana dengan pola pengasuhan
kelak, karena ketika Anda sudah
memasuki fase pengasuhan anak, sabar
adalah modal utama untuk menjadi
orangtua yang baik.
Kesabaran memang sederhana tetapi
tidak mudah. di budaya Jawa, nenek
kami selalu mengatakan bahwa “kabeh
bayi bakalan metu nek uwis sangate”
artinya adalah bayi akan lahir ketika
sudah tiba saatnya. Saatnya siapa? Ya
saatnya dia sudah diap untuk di lahirkan
dan Tuhan sudah menghendaki bayi itu
untuk dilahirkan. Bukan kehendak
manusia tetapi kehendak Sang Kuasa.
bagi saya filosofi dalam budaya Jawa ini
sangat dalam artinya. Seringkali dalam
kenyataan hidup ini calon orangtua
bahkan para provider tidak sabar untuk
menanti “sangate/saat-nya” tersebut.
Sehingga seringkali akibat rasa tidak
sabaran inilah maka muncul rasa takut,
muncul rasa khawatir, muncul rasa tidak
percaya kepada tubuh dan bayi, dan
akibatnya berbagai intervensi yang
sebenarnya tidak perlu di lakukan.
Dimana satu intervensi akan
menimbulkan munculnya intervensi
berikutnya dan berikutnya lagi.
4. Tidak Kejar Target
Proses kelahiran, kematian adalah
rahasia Sang Pencipta. Dan ini akan
terjadi ketika Dia menghendakinya.
Artinya bahwa seharusnya tidak ada
kata-kata death line di dalam proses
persalinan. Kita tahu bahwa ilmu
pengetahuan dan tehnologi berkembang
untuk membantu Anda dan saya, untuk
memudahkan Anda dan saya dalam
menjalani dan mendampingi proses
persalinan. Sebagai contoh penggunaan
rumus Neagle dalam penentuan hari
perkiraan lahir, atau USG untuk
menentukan umur kehamilan dan hari
perkiraan lahir. Semua tehnologi dan ilmu
tersebut bertujuan untuk mempersiapkan
Anda dan saya supaya lebih “aware”
atau lebih waspada kapan sekiranya bayi
Anda akan dilahirkan. Namun
kenyataannya seringkali justru Hari
Perkiraan Lahir dianggap sebagai harga
mati dalam persalinan dimana jika hari
perkiraan lahir tersebut terlampaui maka
berbagai intervensi dilakukan agar sang
bayi segera lahir, tidak perduli apakah
tubuh ibu sudah siap atau belum, atau
apakah bayi memang sudah siap untuk
dilahirkan atau belum. Tanpa melihat
pola menstruasi sang ibu yang lalu atau
pola konsepsi yang terjadi HPL jadi
harga mati. Sehingga seringkali
intervensi yang tidak perlu terjadi
karena mental “kejar target/kejar
death line “ ini.
Tidak hanya itu saja, ketika masuk dalam
proses persalinanpun seringkali provider
menetapkan tentang target pembukaan.
Dimana pembukaan haruslah berjalan
sekian jam. Namun ketika pembukaan
berjalan dengan sedikit lebih lambat,
dan tidak sesuai dengan tabel grafik
atau pedoman yang mereka pakai, maka
tanpa melihat akar masalah dari
pembukaan yang melambat tersebut,
provider langsung melakukan berbagai
intervensi untuk mengejar target
pembukaan.
Nah pertanyaan yang perlu di renungkan
adalah:
Di dalam teori dan penelitian dikatakan
bahwa setelah pembukaan 5 cm, maka
pembukaan akan meningkat satu
sentimeter tiap jam-nya. Jadi misalnya
pembukaan lima terjadi di pukul 18;00
maka pukul 23;00 pembukaan harusnya
sudah lengkap.
Nah dari teori dan penelitian tersebut,
apakah bisa diterapkan kepada semua
wanita bersalin di muka bumi ini? Tentu
saja tidak! Karena proses kelahiran tidak
bisa di atur jam nya. Namun yang
terjadi adalah seringkali teori dan hasil
penelitian tersebut dijadikan sebagai
standart operating procedur (SPO) yang
membuat provider seolah-olah
memperlakukan seorang ibu bersalin
seperti “robot yang melahirkan”.
Nah apa yang terjadi jika perilaku kejar
target ini Anda miliki saat proses
persalinan?
Dimana setiap saat Anda melihat jam
dinding untuk menghitung sekiranya
berapa lama Anda akan menjalani proses
persalinan ini, yang barangkali terasa
tidak nyaman bagi Anda? Lalu perasaan
apa yang akan Alami jika ternyata
target waktu yang sudah ditentukan
tersebut terlampaui, misalnya didalam
teori dikatakan bahwa proses persalinan
untuk ibu yang pertama kali bersalin
adalah sekitar 18 sampai 24 jam. Namun
apa yang terjadi atau yang Anda
rasakan jika ternyata 24 jam tersebut
sudah terlewati dan ternyata proses
pembukaan masih berlangsung lama?
Bukankah itu justru akan menghambat
proses karena justru Anda menjadi stres
dan semakin cemas dan khawatir?
5. Percaya diri (Trust)
Belajar untuk “mendengarkan” tubuh
belajar untuk memercayai tubuh adalah
elemen kunci dalam keberhasilan sebuah
persalinan alami. Ketika mind set Anda
menyatakan bahwa tubuh seorang wanita
di ciptakan untuk melahirkan alami, maka
Anda akan mampu menjalani proses
persalinan tersebut walaupun mungkin
proses tersebut begitu tidak nyaman
atau bahkan menyakitkan. Namun
sebaliknya jika di dalam diri Anda tidak
percaya diri, maka Andapun tidak akan
mampu melewati masa-masa itu dengan
baik.
Percaya kepada kekuatan tubuh, percaya
pada kekuatan bayi Anda dan tentunya
percaya kepada Nya bahwa Anda
diciptakan untuk melahirkan alami
dijaman ini memang bukan sesuatu yang
mudah namun harus Anda lakukan untuk
mencapai Gentle Birth.
6. Pengakuan dan penerimaan
(Acknowledgment)
Beberapa tahun yang lalu sebelum hamil,
Bunda Sari mengalami kecelakaan mobil
yang serius yang menyebabkan tulang
panggulnya sedikit mengalami cidera
atau retak sedangkan sendi atau engsel
yang menghubungkan panggul dengan
tulang pahanya bergeser bahkan
terlepas. Pemulihan yang dia lakukan
cukup lama. Setelah kondisinya pulis,
satu tahun kemudian bunda Sari hamil.
Dan dia ingin sekali melahirkan normal
alami tanpa intervensi medis.
Berbagai upaya dia lakukan, mulai dari
mencari dokter kandungan yang “pro
normal” kemudian menceritakan apa
yang dia alami. Namun sang dokter
sangat fokus dengan kondisi tulang
panggul dan paha pada bunda Sari. Lalu
di usia 32 minggu, ternyata posisi
janinnya sungsang. Dan itu membuat
sang dokter tidak mengijinkan bunda
Sari untuk melahirkan secara normal
alami.
Mengerti bahwa dia kecewa dan marah
dengan kondisi dirinya sendiri, maka
bunda Sari mencoba melakukan action.
Dia menjelajahi internet, dia bertanya
kepada suami dan teman-temannya. Dia
mencoba untuk melakukan Yoga, tai chi,
Hypnobirthing dan visualisasi supaya
posisi bayinya kembali ke posisi kepala.
Saat itu bunda Sari sangat tidak ingin
melahirkan secara sesar. Dan akhirnya
bunda Sari semakin rajin untuk mencoba
membangun koneksi atau hubungan
dengan tubuhnya dan bayinya. Di usia
kehamilannya yang menginjak 35 minggu
saat itu, ternyata sang bayi tetap saja
berada dalam posisi sungsang, namun
saat itu setelah melakukan relaksasi dan
komunikasi dengan janin bunda Sari
tiba-tiba menyadari bahwa melahirkan
itu tidak hanya tentang dia pribadi,
namun juga tentang dirinya dan
anaknya. Apa yang terbaik bagi bayinya
itu yang seharusnya dia fikirkan.
Setelah selesai melakukan relaksasi dan
komuniksai dengan janin akhirnya bunda
sari justru menginginkan Operasi Sesar.
Namun yang dia inginkan adalah operasi
sesar yang lebut yang benar-benar dia
persiapkan secara mental dan spiritual.
Karena memang secara fisik bunda Sari
tidak memungkinkan untuk dapat
melahirkan secara normal alami.
Kemarahan dan kekecewaan terhadap
diri sendiri akhirnya hilang dan berganti
dengan rasa percaya diri yang luar
biasa. Dan alhasil di usia 40 minggu
budan Sari melakukan operasi sesar yang
terencana. Dan dia mendapatkan
pengalaman operasi yang menyenangkan
karena kebetulan dokter yang
menanganinya adalah dokter yang sudah
mengenal dan mengerti tentang
penerapan gentle birth pada operasi
sesar bahkan dokter tersebut mau dan
mengijinkan untuk melakukan inisiasi
menyusu dini di ruang operasi. Hari
ketiga setelah operasi jahitan luka
operasi bunda Sari sudah sembuh dan
Asinya pun lancar memancar.
Kisah bunda Sari diatas membuat kita
sadar bahwa terkadang ada suatu
kondisi dimana memang tidak
memungkinkan untuk Anda melahirkan
dengan normal alami. Mencoba untuk
berdamai dengan kondisi Anda adalah
hal yang terbaik. Sikap pengakuan dan
penerimaan itu penting. Untuk
menghindari kekecewaan dan trauma
yang berkepanjangan.
7. Pasrah dengan apa yang terjadi
(Letting Be)
Dalam proses persalinan terkadang kita
tidak dapat mengontrol segala
sesuatunya. Sebuah kisah yang mungkin
dapat menjelaskan arti kata Letting Be
di atas adalah kasus bunda Risky.
Bunda Risky (Jogja) adalah klien saya
yang sangat positif. Setiap selasa pagi
jam 09;00 hampir dia tidak pernah absen
mengikuti kelas prenatal yoga yang saya
adakan di Studio Yoga Balance di hotel
Puri Artha Jogja. Selain rajin beryoga,
bunda Risky juga mengikuti kelas Gentle
Birth Balance dimana saya mengajarkan
tentang Hypnobirthing dan tentang
gentle birth. Segala upaya yang
dilakukan selama kehamilan adalah
upaya untuk bisa bersalin dengan normal
alami. Bahkan ketika bunda Risky sudah
mengalami pembukaan satu sentimeter-
pun bunda Risky masih mengikuti
prenatal yoga. Ceritanya pembukaan
yang dialami bunda Risky sangatlah
lambat, pembukaan satu hingga lengkap
terjadi selama tiga hari. Dan selama
tiga hari tersebut kondisi janin sangat
baik, detak jantung normal, gerakan
normal, ketuban utuh dan bunda Risky
merasa nyaman karena rasa sakit yang
dia alami sangatlah minim. Ketika
pembukaan lengkap, dan bunda Risky
mulai mengejan ternyata penurunan
kepala bayi tidaklah signifikan. Hampir
dua jam mengejan dengan berbagai
posisi (duduk, jongkok bahkan berdiri)
dilakukan namun ternyata kepala janin
hanya bisa turun hingga tengah panggul
saja (Hodge 1+) saja dan tidak bisa
lebih jauh lagi. Kemudian saat itu
akhirnya saya merujuk bunda Risky ke
rumah sakit dengan diagnosa “kala dua
tidak maju” sesampai di rumah sakit
memang benar bahwa kepala janin tidak
bisa turun lebih jauh lagi, dan akhirnya
operasi sesarpun dilakukan. Dan setelah
selesai operasi sesar ternyata baru
diketahui bahwa penyebab kenapa kepala
bayi tidak mau turun adalah tali pusat
sang bayi yang terlalu pendek hanya
sekitar 20 sentimeter (normalnya 60-70
cm).
Nah kejadian kasus seperti bunda Risky
walaupun tidak banyak terjadi namun
bisa saja terjadi pada Anda, pasrah
dengan apa yang terjadi saat proses
persalinan adalah mental yang penting
sekali di bangun sejak awal. Sehingga
yang terpenting adalah Anda mau
mengupayakan sejak awal segala
persiapan yang dibutuhkan dalam
persalinan, kemudian saat proses
persalinan tiba cobalah untuk pasrah dan
menjalani proses dengan hati yang
ikhlas.
Karena yang paling penting adalah
bagaimana Anda mempersiapkan dan
berjalan bersama proses tersebut.
8. Kebaikan (Kindness)
Kebaikan adalah mutlak diperlukan bagi
Anda sebagai calon orangtua. Karena
energi ini sangatlah berdampak positif
dalam pola pengasuhan baik di dalam
rahim maupun jika janin Anda sudah
lahir. Ketika Anda memancarkan
kebaikan dan mengarahkan energi
kebaikan kepada semua orang termasuk
suami, janin dalam kandungan dan
keluarga maka Andapun akan merasa
nyaman dan tenang.
Berikut ini latihan meditasi yang bisa
Anda lakukan untuk membangun energi
kebaikan tersebut:
Meditasi untuk Kebaikan
Mengarah kepada sendiri
Semoga saya senang
Semoga aku menjadi berseri-seri sehat
Semoga saya terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Saya merasa dicintai dan didukung
Kemudian mengarah ke pasangan Anda
(Anda mungkin mengatakan nama
mereka di depan kalimat jika Anda
inginkan)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Kemudian mengarahkan kepada bayi,
(Anda mungkin mengucapkan nama bayi
Anda jika sudah ada dan jika Anda
inginkan)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Kemudian mengarah kepada keluarga
(termasuk anggota lain)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Lakukan ini sesering mungkin
Contoh kasus dalam persiapan bathin
dalam menghadapi persalinan ini adalah
seperti kasus yang pernah saya temui
berikut ini:
Suatu sore, bunda Mitha datang ke Klinik
Bidan Kita, dan mengambil kelas healing
birth trauma serta persiapan untuk
rencana VBAC-nya (Vaginal Birth After
Caesarean/ melahirkan normal setelah
sebelumnya opreasi sesar). Bunda Mitha
adalah seornag bidan, dan ibunyapun
seorang bidan senior di daerah
Surakarta. Di pertemuan pertama kelas
healing birth trauma, beliau bercerita
tentang semua trauma yang dia alami
saat melahirkan di rumah sakit, mulai
dari proses induksi, perlakuan para bidan
dan suster yang menurutnya kurang
manusiawi, operasi sesar yang tidak dia
duga sama sekali, pemisahan antara dia
dan bayinya selama beberapa hari. Dan
masih banyak sekali trauma yang dia
alami, hingga bunda Mitha tidak mau lagi
mengajar mata kuliah Asuhan persalinan
Normal di Stikes (sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan) karena dia merasa gagal
untuk melahirkan normal. Ketika ikut
kelas, hal pertama yang saya ajarkan
adalah tentang persiapan bathin dalam
proses persalinan. Nah suatu hari bunda
Mitha datang untuk melahirkan di Bidan
Kita, kontraksi demi kontraksi dilalui
dengan sabar dan tenang. Saat itu
ketubannya sudah pecah duluan
(Ketuban Pecah Dini), berbagai
treatment saya lakukan untuk
merangsang munculnya kontraksi dan
berharap pembukaan segera bertambah.
Namun yang terjadi penambahan
pembukaan berjalan sangat lambat. Dan
kepala janin tidak mau turun ke dasar
panggul. Ketika kontraksi datang kepala
janin mau turun namun sesaat kemudian
setelah kontraksi hilang kepala janin
naik kembali, begitu seterusnya. Hingga
akhirnya di pembukaan 8cm, detak
jantung janin menunjukkan reaksi distres
dimana detak jantungnya sekitar 170 x
per menit (angka normal= 120 – 160 x/
menit).
Akhirnya bunda Mitha saya rujuk
mengingat kondisi janinnya tidak
memungkinkan untuk tetap saya rawat di
Bidan Kita. Sesampai di Rumah Sakit,
setelah beberapa treatment yang mereka
lakukan maka detak jantung janin
kembali normal. Sekitar 5 jam, menunggu
ternyata pembukaan hanya tambah ½
cm saja. Dan kepala janinpun tidak mau
turun ke dasar panggul. Hal inilah yang
akhirnya menyebabkan sang dokter
memutuskan untuk melakukan operasi
sesar. Dan ternyata ketika di lakukan
operasi, sang bayi mengalami lilitan tali
pusat sebanyak 3 kali lilitan dan ketat.
Hal inilah yang ternyata menyebabkan
kepalanya tidak mau turun dan
pembukaannya berjalan begitu lambat.
Karena Bunda Mitha sudah dipersiapkan
mentalnya untuk menghadapi segala
kemungkinan dalam persalinan, dima adia
belajar tentang kesabaran, pasrah,
kebaikan, maka justru di proses operasi
sesar yang kedua ini dia tidak mengalami
trauma. Dan mampu melihat semua
peristiwa dari kacamata yang positif.
Dan saya sangat bersyukur untuk hal ini.
Kita tahu dan kita tidak bisa memungkiri
bahwa terkadang ada sesuatu yang
terjadi diluar harapan kita ketika dalam
proses persalinan dan kelahiran. Nah
belajar untuk mempersiapkan mental dan
spiritual untuk menghadapi proses
persalinan adalah mutlak diperlukan
untuk Anda calon orang tua.
Selamat memberdayakan diri
Salam Hangat
Yesie Aprillia
Resource:
- Aprillia, Yesie. Hipnostetri. Jakarta;
Gagas Media, 2010
- Aprillia, Yesie. Siapa Bilang
Melahirkan Itu Sakit, Yogyakarta; Andi
Offset, 2011
- Aprillia, Yesie. Gentle Birth, Jakarta;
Grasindo, 2012
- Aprillia, Yesie. Art Of Waterbirth,
Jakarta; Grasindo 2013
- Balaskas, Janet. Active Birth.
Boston: Harvard Common Press, 1992
- Boston Womens’s Health Book
Collective. Our Bodies, Ourselves:
Pregnancy and Birth, Newyork:
Touchstone, 2008
- Bardacke, Nancy. Mindful Birthing;
Training The Mind, Body, and Heart For
Childbirth and Beyond. New York;
HarperCollins Publisher, 2012
- Biyth, Jenny. Birthwork; a
compassionate guide to being with birth.
Queensland, 2007
- Chopra, Deepak. A Holistic Guide to
Pregnancy And Childbirth; Magical
Beginnings Enchanted Lives. USA: Three
Rivers Press, 2005
- Chamberlain, David. The Mind of
Your Newborn baby, 3d edition.
Berkeley, Calif.: Nort Atlantic Books,
1998
- Dick- Read, Grantly. Childbirth
Without Fear: The prinsciples and
Practise of Natural Childbirth, London:
Pinter & Martin, Ltd., 2004
- England, Pam. Birthing From Within.
USA, Partera Press, 1998
- Gaskin, Ina May. Ina May’s Guide to
Childbirth. New York; Bantam Books,
2003
- Gaskin, Ina May. Spiritual
Midwifery, 4th edition, Summerville,
Tenn: book publishing Company, 2002.
- Germain, Blandine Calais. Preparing
for a Gentle Birth, Healing Arts Press.
2009
- Goer, Henci. The Thinking Woman's
Guide to a Better Birth (Paperback).
Penguin Putnam Inc , 1999
- Gurmukh Kaur Khalsa. Bountiful,
Beautitul, Blissful: Experience the
natural Power of Pregnancy and Birth
with Kundalini Yoga and Meditation. New
York: St. Martin’s Press. 2003
- Harper, Barbara. Gentle Birth
Choices, Healing Art Press, 2005
- Klaus, Marshall H., John H. Kennell,
and Phyllis H. Klaus. The Doula Books;
How a trained Labor Companion Can Help
You Have a Shorter, Easier and Healthier
Birth. USA: Perseus Publishing, 2012.
- Kitzinger, Sheila. The Complete Book
of Pregnancy and Childbirth; New
Edition. New York; Alferd A. Knipf, 1997
- Kitzinger, Sheila. Rediscovering
Birth. New York; Pocket Books, 2000.
- Lothian, Judith and Charlotte
DeVries. The Official lamaze Guide;
Giving Birth with Confidance. New York;
Meadowbrook Press, 2010
- Laboyer, Frederick. The Art of
Giving Birth; With chanting, Breathing
and Movement. German, Healing arts
Press, 2006
- Northrup, Christine. Women’s Bodies,
Women’s Wisdom. New York; Bantam,
1994
- Newman, Robert Bruce. Calm Birth;
New Method for Conscious Childbirth.
North Atlantic Books, Berkeley,
California. 2005
- Odent, Michel. Birth Reborn. New
York; Birth Works, 1994
- Odent, Michel, The Scientification of
Love. London, Free Association Books,
1999
- Sears, William, and Martha Sears.
The Baby Book; Everthing You Need to
Know Help a Woman Through Childbirth.
Boston; Harvard Common Press, 1989
- Simkin, Penny. The Birth Partner: A
complete Guide to Childbirth for Dads,
Doulas, and All Other Labor Companions.
Massachusetts: Havard Common Press,
2008
- Susan Mc Cutcheon, Natural
Childbirth the Bradley Way, a Plumm
book, 1996

Persiapan batin untuk proses persalinan

Proses persalinan merupakan pengalaman mental yang luar biasa dan tidak
mungkin dilupakan atau terlupakan. Ini
terbukti ketika Anda coba bertanya
kepada ibu Anda bahkan Nenek Anda
tentang sejarah atau kisah persalinan
mereka. Mereka akan dengan detail
mampu menceritakan dan
menggambarkan tentang pengalaman
melahirkannya. Apalagi ketika mereka
mengalami trauma atau mengalami
sesuatu yang sangat berkesan baik
dalam konteks positif maupun negatif.
Sehingg seringkali saat Anda bertanya
tentang kisah persalinan mereka justru
Anda akan mendapatkan wejangan-
wejangan khusus dari mereka berkaitan
dengan proses tersebut.
Untuk itulah maka sangat penting bagi
anda untuk mempersiapkan mental dan
spiritual untuk menghadapi proses
persalinan nanti. Ada beberapa sikap
dasar yang harus Anda miliki sebagai
calon ibu.
1. Pikiran Awal/pemula (Beginner’s
Mind)
Dari semua aspek dalam proses
persalinan yang terjadi pada setiap
orang, pengalaman persalinan Anda
adalah milik Anda sendiri yang mana
pengalaman persalinan Anda tentu saja
berbeda dengan pengalaman persalinan
ibu yang lain. Bahkan pengalaman
persalinan Anda yang pertama tidak
akan sama dengan pengalaman
persalinan Anda yang kedua atau
seterusnya. Dan pengalaman persalinan
tersebut bisa saja berbeda dengan apa
yang Anda baca, Anda lihat di TV
maupun video. Persalinan Anda adalah
unik. Jadi pemikiran inilah yang harus
mengawali dan menjadi dasar dalam
pikiran dan hati Anda. Sehingga jangan
sampai anda mengandalkan rumus
“KATANYA”, yaitu katanya si A
begini......, lalu katanya si B begitu....
dan seterusnya. Ingat Anda harus
mengingat bahwa persalinan setiap
manusia itu berbeda karena manusia itu
unik.
Pikiran Awal/pemula (Beginner’s Mind)
hampir sama dengan pikiran tidak tahu
atau “don’t know mind”. Kita tahu
bahwa selama proses kehamilan
terkadang kita menemui beberapa
kejadian yang tidak di harapkan.
Contohnya ketika Anda melakukan test
laboratorium ditemukan bahwa Anda
menderita anemia atau sesuatu yang
lebih serius misalnya mengidap virus CMV
(Cytomegalovirus). Atau mungkin tiba-
tiba di umur kehamilan 32 minggu posisi
janin Anda menjadi sungsang, dimana
hal ini memungkinkan sebuah jawaban
yang tidak diharapkan ketika muncul
pertanyaan bagaimana cara bayi Anda
dilahirkan nanti. Seringkali kejutan demi
kejutan terjadi pada saat proses
persalinan dan kejutan tersebut
terkadang tidak dapat Anda hindari,
contohnya jika tiba-tiba selaput ketuban
Anda pecah dan Anda mengalami
Ketuban Pecah Dini, atau kejutan yang
Anda alami saat tiba-tiba Anda merasa
ingin mengejan padahal belum
pembukaan lengkap
Pikiran awal atau beginner mind
membuat kita lebih siap menghadapi
segala kemungkinan yang bisa saja
terjadi dalam persalinan nanti, dimana
dalam pikiran ini kita dapat menyadari
harapan dan harapan kita akan proses
persalinan tanpa harus terpaku kaku
dengan harapan-harapan tersebut,
apalagi terobsesi. Dalam arti bahwa
ketika Anda sudah mempersiapkan
segalanya dengan sebaik-baiknya maka
saat persalinan adalah waktunya untuk
pasrah, ikhlas dan tenang.
2. Tidak menghakimi (Non-Judging)
“Pasti bakalan terasa sakit sekali!”
“Sepertinya aku tidak bakalan kuat
menahan rasa sakit yang katanya orang
benar-benar luarbiasa!”
“Aku terlalu gemuk, pasti aku kesulitan
saat melahirkan nanti”
Apa yang kita pikirkan seringkali
merupakan reaksi dari pengalaman hidup
kita yang lalu. Kita bisa saja dengan
mudah dan cepat menghakimi atau
menilai sesuatu apakah itu sebagai hal
yang baik atau buruk ketika kita
menemukan bahwa itu menyenangkan
atau menyakitkan. Dan beberapa kalimat
di atas adalah kalimat-kalimat penilaian
dan penghakiman terhadap diri sendiri
yang seringkali ada di dalam pikiran dan
hari Anda.
Ketika pemikiran tentang penghakiman
atau penilaian tersebut terus ada dalam
hati dan pikiran Anda, maka hal ini akan
sangat berdampak hingga proses post
partum (paska melahirkan) nanti, dimana
ini justru membuat Anda berpotensial
menderita depresi post partum. Karena
dengan adanya pemikian tersebut bisa
saja Anda selalu menyalahkan diri Anda
atas beberapa kejadian yang mungkin
saja tidak mengenakkan dan
menyakitnyan yang Anda alami.
Bunda Fathya adalah seorang ibu yang
mempunyai masalah berat badan
berlebihan sejak sebelum dia hamil.
Ketika dia melakukan pemeriksaan
kehamilan di Bidan Kita, sejak awal dia
sangat khawatir dengan kondisinya
karena menyadari bahwa badannya
besar dia menilai bahwa dia tidak
bakalan bisa melahirkan secara normal
alami, karena tubuhnya yang besar
tersebut bisa saja membuat kesulitan
demi kesulitan terjadi saat proses
persalinan. Saat itu saya sangat maklum
dengan apa yang dirasakan bunda
Fathya. Karena memang berat badannya
hampir mencapai 95 kg di usia kehamilan
20 minggu. Namun saat itu bunda Fathya
saya ajak untuk mengikuti kelas
persiapan persalinan dengan program
balance gentle birth di klinik Bidan Kita.
Selain belajar untuk lebih tenang dan
optimis, bunda Fathya juga saya
motivasi untuk rajin melakukan prenatal
yoga. Sehingga tulang belakang dan
kakinya kuat serta pinggulnya lebih
lebar. Ketika berada di kelas prenatal
yoga untuk pertama kalinya, memang
bunda Fathya lumayan minder karena
tubuhnya yang paling besar diantara ibu
yang lain dan gerakannya paling kaku
dan sulit di banding ibu yang lain.
Namun saat itu semua ibu-ibu dan saya
menyemangati bunda Fathya sehingga
muncul dalam pikirannya bahwa dia lebih
percaya diri, dan menganggap bahwa
kondisi tubuhnya ini adalah sebuah
kesempatan dan peluang serta
tantangan untuk berlatih lagi dan lagi.
Hingga akhirnya bunda Fathya bisa
melahirkan dengan normal dan lancar
padahal berat badan bayinya cukup
besar.
Nah untuk itu, ketika Anda hamil, jangan
pernah menghakimi diri sendiri dan
seolah-olah memberikan sugesti negatif
kepada diri sendiri dengan menilai dan
menghakimi.
3. Sabar (Patience)
Sabar adalah modal utama dalam proses
kehamilan dan dan persalinan. Dan
melalui proses ini jugalah saya belajar
banyak tentang arti kesabaran.
Sabar adalah ketika Anda harus
menunggu tanda-tanda persalinan
datang padahal hari perkiraan lahir
sudah terlewati dan semua orang sudah
menayakan kepada Anda tentang kapan
Anda melahirkan.
Sabar adalah ketika Anda harus
menunggu selama 40 minggu bahkan
lebih untuk bertemu dengan buah hati
Anda
Sabar adalah ketika pembukaan berjalan
begitu lambat dan terasa tidak nyaman
Sabar adalah ketika Anda merasakan
kontraksi demi kontraksi yang tak
kunjung usai.
Ya sabar, sabar dan sabar adalah hal
pokok yang harus dimiliki seorang calon
ibu, calon bapak juga oleh bidan maupun
dokter. Saya seringkali menggambarkan
bahwa sabar adalah ketika saya harus
mengawasi, mengobservasi dan
menunggu. Dimana saya harus bersabar
untuk tidak melakukan intervensi yang
tidak perlu ketika pembukaan klien tidak
sesuai dengan teori yang ada. Dimana
saya harus bersabar untuk tidak
memberikan induksi ketika hari perkiraan
lahir sudah terlampaui.
Dan saya selalu mengatakan kepada
klien saya bahwa sabar adalah pelajaran
yang di dapat dalam proses persalinan,
karena jika Anda tidak sabar,
bagaimana dengan pola pengasuhan
kelak, karena ketika Anda sudah
memasuki fase pengasuhan anak, sabar
adalah modal utama untuk menjadi
orangtua yang baik.
Kesabaran memang sederhana tetapi
tidak mudah. di budaya Jawa, nenek
kami selalu mengatakan bahwa “kabeh
bayi bakalan metu nek uwis sangate”
artinya adalah bayi akan lahir ketika
sudah tiba saatnya. Saatnya siapa? Ya
saatnya dia sudah diap untuk di lahirkan
dan Tuhan sudah menghendaki bayi itu
untuk dilahirkan. Bukan kehendak
manusia tetapi kehendak Sang Kuasa.
bagi saya filosofi dalam budaya Jawa ini
sangat dalam artinya. Seringkali dalam
kenyataan hidup ini calon orangtua
bahkan para provider tidak sabar untuk
menanti “sangate/saat-nya” tersebut.
Sehingga seringkali akibat rasa tidak
sabaran inilah maka muncul rasa takut,
muncul rasa khawatir, muncul rasa tidak
percaya kepada tubuh dan bayi, dan
akibatnya berbagai intervensi yang
sebenarnya tidak perlu di lakukan.
Dimana satu intervensi akan
menimbulkan munculnya intervensi
berikutnya dan berikutnya lagi.
4. Tidak Kejar Target
Proses kelahiran, kematian adalah
rahasia Sang Pencipta. Dan ini akan
terjadi ketika Dia menghendakinya.
Artinya bahwa seharusnya tidak ada
kata-kata death line di dalam proses
persalinan. Kita tahu bahwa ilmu
pengetahuan dan tehnologi berkembang
untuk membantu Anda dan saya, untuk
memudahkan Anda dan saya dalam
menjalani dan mendampingi proses
persalinan. Sebagai contoh penggunaan
rumus Neagle dalam penentuan hari
perkiraan lahir, atau USG untuk
menentukan umur kehamilan dan hari
perkiraan lahir. Semua tehnologi dan ilmu
tersebut bertujuan untuk mempersiapkan
Anda dan saya supaya lebih “aware”
atau lebih waspada kapan sekiranya bayi
Anda akan dilahirkan. Namun
kenyataannya seringkali justru Hari
Perkiraan Lahir dianggap sebagai harga
mati dalam persalinan dimana jika hari
perkiraan lahir tersebut terlampaui maka
berbagai intervensi dilakukan agar sang
bayi segera lahir, tidak perduli apakah
tubuh ibu sudah siap atau belum, atau
apakah bayi memang sudah siap untuk
dilahirkan atau belum. Tanpa melihat
pola menstruasi sang ibu yang lalu atau
pola konsepsi yang terjadi HPL jadi
harga mati. Sehingga seringkali
intervensi yang tidak perlu terjadi
karena mental “kejar target/kejar
death line “ ini.
Tidak hanya itu saja, ketika masuk dalam
proses persalinanpun seringkali provider
menetapkan tentang target pembukaan.
Dimana pembukaan haruslah berjalan
sekian jam. Namun ketika pembukaan
berjalan dengan sedikit lebih lambat,
dan tidak sesuai dengan tabel grafik
atau pedoman yang mereka pakai, maka
tanpa melihat akar masalah dari
pembukaan yang melambat tersebut,
provider langsung melakukan berbagai
intervensi untuk mengejar target
pembukaan.
Nah pertanyaan yang perlu di renungkan
adalah:
Di dalam teori dan penelitian dikatakan
bahwa setelah pembukaan 5 cm, maka
pembukaan akan meningkat satu
sentimeter tiap jam-nya. Jadi misalnya
pembukaan lima terjadi di pukul 18;00
maka pukul 23;00 pembukaan harusnya
sudah lengkap.
Nah dari teori dan penelitian tersebut,
apakah bisa diterapkan kepada semua
wanita bersalin di muka bumi ini? Tentu
saja tidak! Karena proses kelahiran tidak
bisa di atur jam nya. Namun yang
terjadi adalah seringkali teori dan hasil
penelitian tersebut dijadikan sebagai
standart operating procedur (SPO) yang
membuat provider seolah-olah
memperlakukan seorang ibu bersalin
seperti “robot yang melahirkan”.
Nah apa yang terjadi jika perilaku kejar
target ini Anda miliki saat proses
persalinan?
Dimana setiap saat Anda melihat jam
dinding untuk menghitung sekiranya
berapa lama Anda akan menjalani proses
persalinan ini, yang barangkali terasa
tidak nyaman bagi Anda? Lalu perasaan
apa yang akan Alami jika ternyata
target waktu yang sudah ditentukan
tersebut terlampaui, misalnya didalam
teori dikatakan bahwa proses persalinan
untuk ibu yang pertama kali bersalin
adalah sekitar 18 sampai 24 jam. Namun
apa yang terjadi atau yang Anda
rasakan jika ternyata 24 jam tersebut
sudah terlewati dan ternyata proses
pembukaan masih berlangsung lama?
Bukankah itu justru akan menghambat
proses karena justru Anda menjadi stres
dan semakin cemas dan khawatir?
5. Percaya diri (Trust)
Belajar untuk “mendengarkan” tubuh
belajar untuk memercayai tubuh adalah
elemen kunci dalam keberhasilan sebuah
persalinan alami. Ketika mind set Anda
menyatakan bahwa tubuh seorang wanita
di ciptakan untuk melahirkan alami, maka
Anda akan mampu menjalani proses
persalinan tersebut walaupun mungkin
proses tersebut begitu tidak nyaman
atau bahkan menyakitkan. Namun
sebaliknya jika di dalam diri Anda tidak
percaya diri, maka Andapun tidak akan
mampu melewati masa-masa itu dengan
baik.
Percaya kepada kekuatan tubuh, percaya
pada kekuatan bayi Anda dan tentunya
percaya kepada Nya bahwa Anda
diciptakan untuk melahirkan alami
dijaman ini memang bukan sesuatu yang
mudah namun harus Anda lakukan untuk
mencapai Gentle Birth.
6. Pengakuan dan penerimaan
(Acknowledgment)
Beberapa tahun yang lalu sebelum hamil,
Bunda Sari mengalami kecelakaan mobil
yang serius yang menyebabkan tulang
panggulnya sedikit mengalami cidera
atau retak sedangkan sendi atau engsel
yang menghubungkan panggul dengan
tulang pahanya bergeser bahkan
terlepas. Pemulihan yang dia lakukan
cukup lama. Setelah kondisinya pulis,
satu tahun kemudian bunda Sari hamil.
Dan dia ingin sekali melahirkan normal
alami tanpa intervensi medis.
Berbagai upaya dia lakukan, mulai dari
mencari dokter kandungan yang “pro
normal” kemudian menceritakan apa
yang dia alami. Namun sang dokter
sangat fokus dengan kondisi tulang
panggul dan paha pada bunda Sari. Lalu
di usia 32 minggu, ternyata posisi
janinnya sungsang. Dan itu membuat
sang dokter tidak mengijinkan bunda
Sari untuk melahirkan secara normal
alami.
Mengerti bahwa dia kecewa dan marah
dengan kondisi dirinya sendiri, maka
bunda Sari mencoba melakukan action.
Dia menjelajahi internet, dia bertanya
kepada suami dan teman-temannya. Dia
mencoba untuk melakukan Yoga, tai chi,
Hypnobirthing dan visualisasi supaya
posisi bayinya kembali ke posisi kepala.
Saat itu bunda Sari sangat tidak ingin
melahirkan secara sesar. Dan akhirnya
bunda Sari semakin rajin untuk mencoba
membangun koneksi atau hubungan
dengan tubuhnya dan bayinya. Di usia
kehamilannya yang menginjak 35 minggu
saat itu, ternyata sang bayi tetap saja
berada dalam posisi sungsang, namun
saat itu setelah melakukan relaksasi dan
komunikasi dengan janin bunda Sari
tiba-tiba menyadari bahwa melahirkan
itu tidak hanya tentang dia pribadi,
namun juga tentang dirinya dan
anaknya. Apa yang terbaik bagi bayinya
itu yang seharusnya dia fikirkan.
Setelah selesai melakukan relaksasi dan
komuniksai dengan janin akhirnya bunda
sari justru menginginkan Operasi Sesar.
Namun yang dia inginkan adalah operasi
sesar yang lebut yang benar-benar dia
persiapkan secara mental dan spiritual.
Karena memang secara fisik bunda Sari
tidak memungkinkan untuk dapat
melahirkan secara normal alami.
Kemarahan dan kekecewaan terhadap
diri sendiri akhirnya hilang dan berganti
dengan rasa percaya diri yang luar
biasa. Dan alhasil di usia 40 minggu
budan Sari melakukan operasi sesar yang
terencana. Dan dia mendapatkan
pengalaman operasi yang menyenangkan
karena kebetulan dokter yang
menanganinya adalah dokter yang sudah
mengenal dan mengerti tentang
penerapan gentle birth pada operasi
sesar bahkan dokter tersebut mau dan
mengijinkan untuk melakukan inisiasi
menyusu dini di ruang operasi. Hari
ketiga setelah operasi jahitan luka
operasi bunda Sari sudah sembuh dan
Asinya pun lancar memancar.
Kisah bunda Sari diatas membuat kita
sadar bahwa terkadang ada suatu
kondisi dimana memang tidak
memungkinkan untuk Anda melahirkan
dengan normal alami. Mencoba untuk
berdamai dengan kondisi Anda adalah
hal yang terbaik. Sikap pengakuan dan
penerimaan itu penting. Untuk
menghindari kekecewaan dan trauma
yang berkepanjangan.
7. Pasrah dengan apa yang terjadi
(Letting Be)
Dalam proses persalinan terkadang kita
tidak dapat mengontrol segala
sesuatunya. Sebuah kisah yang mungkin
dapat menjelaskan arti kata Letting Be
di atas adalah kasus bunda Risky.
Bunda Risky (Jogja) adalah klien saya
yang sangat positif. Setiap selasa pagi
jam 09;00 hampir dia tidak pernah absen
mengikuti kelas prenatal yoga yang saya
adakan di Studio Yoga Balance di hotel
Puri Artha Jogja. Selain rajin beryoga,
bunda Risky juga mengikuti kelas Gentle
Birth Balance dimana saya mengajarkan
tentang Hypnobirthing dan tentang
gentle birth. Segala upaya yang
dilakukan selama kehamilan adalah
upaya untuk bisa bersalin dengan normal
alami. Bahkan ketika bunda Risky sudah
mengalami pembukaan satu sentimeter-
pun bunda Risky masih mengikuti
prenatal yoga. Ceritanya pembukaan
yang dialami bunda Risky sangatlah
lambat, pembukaan satu hingga lengkap
terjadi selama tiga hari. Dan selama
tiga hari tersebut kondisi janin sangat
baik, detak jantung normal, gerakan
normal, ketuban utuh dan bunda Risky
merasa nyaman karena rasa sakit yang
dia alami sangatlah minim. Ketika
pembukaan lengkap, dan bunda Risky
mulai mengejan ternyata penurunan
kepala bayi tidaklah signifikan. Hampir
dua jam mengejan dengan berbagai
posisi (duduk, jongkok bahkan berdiri)
dilakukan namun ternyata kepala janin
hanya bisa turun hingga tengah panggul
saja (Hodge 1+) saja dan tidak bisa
lebih jauh lagi. Kemudian saat itu
akhirnya saya merujuk bunda Risky ke
rumah sakit dengan diagnosa “kala dua
tidak maju” sesampai di rumah sakit
memang benar bahwa kepala janin tidak
bisa turun lebih jauh lagi, dan akhirnya
operasi sesarpun dilakukan. Dan setelah
selesai operasi sesar ternyata baru
diketahui bahwa penyebab kenapa kepala
bayi tidak mau turun adalah tali pusat
sang bayi yang terlalu pendek hanya
sekitar 20 sentimeter (normalnya 60-70
cm).
Nah kejadian kasus seperti bunda Risky
walaupun tidak banyak terjadi namun
bisa saja terjadi pada Anda, pasrah
dengan apa yang terjadi saat proses
persalinan adalah mental yang penting
sekali di bangun sejak awal. Sehingga
yang terpenting adalah Anda mau
mengupayakan sejak awal segala
persiapan yang dibutuhkan dalam
persalinan, kemudian saat proses
persalinan tiba cobalah untuk pasrah dan
menjalani proses dengan hati yang
ikhlas.
Karena yang paling penting adalah
bagaimana Anda mempersiapkan dan
berjalan bersama proses tersebut.
8. Kebaikan (Kindness)
Kebaikan adalah mutlak diperlukan bagi
Anda sebagai calon orangtua. Karena
energi ini sangatlah berdampak positif
dalam pola pengasuhan baik di dalam
rahim maupun jika janin Anda sudah
lahir. Ketika Anda memancarkan
kebaikan dan mengarahkan energi
kebaikan kepada semua orang termasuk
suami, janin dalam kandungan dan
keluarga maka Andapun akan merasa
nyaman dan tenang.
Berikut ini latihan meditasi yang bisa
Anda lakukan untuk membangun energi
kebaikan tersebut:
Meditasi untuk Kebaikan
Mengarah kepada sendiri
Semoga saya senang
Semoga aku menjadi berseri-seri sehat
Semoga saya terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Saya merasa dicintai dan didukung
Kemudian mengarah ke pasangan Anda
(Anda mungkin mengatakan nama
mereka di depan kalimat jika Anda
inginkan)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Kemudian mengarahkan kepada bayi,
(Anda mungkin mengucapkan nama bayi
Anda jika sudah ada dan jika Anda
inginkan)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Kemudian mengarah kepada keluarga
(termasuk anggota lain)
Semoga Anda senang
Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat
Semoga Anda terus tumbuh dan berubah
menuju kebaikan
Semoga Anda merasakan cintaku
Lakukan ini sesering mungkin
Contoh kasus dalam persiapan bathin
dalam menghadapi persalinan ini adalah
seperti kasus yang pernah saya temui
berikut ini:
Suatu sore, bunda Mitha datang ke Klinik
Bidan Kita, dan mengambil kelas healing
birth trauma serta persiapan untuk
rencana VBAC-nya (Vaginal Birth After
Caesarean/ melahirkan normal setelah
sebelumnya opreasi sesar). Bunda Mitha
adalah seornag bidan, dan ibunyapun
seorang bidan senior di daerah
Surakarta. Di pertemuan pertama kelas
healing birth trauma, beliau bercerita
tentang semua trauma yang dia alami
saat melahirkan di rumah sakit, mulai
dari proses induksi, perlakuan para bidan
dan suster yang menurutnya kurang
manusiawi, operasi sesar yang tidak dia
duga sama sekali, pemisahan antara dia
dan bayinya selama beberapa hari. Dan
masih banyak sekali trauma yang dia
alami, hingga bunda Mitha tidak mau lagi
mengajar mata kuliah Asuhan persalinan
Normal di Stikes (sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan) karena dia merasa gagal
untuk melahirkan normal. Ketika ikut
kelas, hal pertama yang saya ajarkan
adalah tentang persiapan bathin dalam
proses persalinan. Nah suatu hari bunda
Mitha datang untuk melahirkan di Bidan
Kita, kontraksi demi kontraksi dilalui
dengan sabar dan tenang. Saat itu
ketubannya sudah pecah duluan
(Ketuban Pecah Dini), berbagai
treatment saya lakukan untuk
merangsang munculnya kontraksi dan
berharap pembukaan segera bertambah.
Namun yang terjadi penambahan
pembukaan berjalan sangat lambat. Dan
kepala janin tidak mau turun ke dasar
panggul. Ketika kontraksi datang kepala
janin mau turun namun sesaat kemudian
setelah kontraksi hilang kepala janin
naik kembali, begitu seterusnya. Hingga
akhirnya di pembukaan 8cm, detak
jantung janin menunjukkan reaksi distres
dimana detak jantungnya sekitar 170 x
per menit (angka normal= 120 – 160 x/
menit).
Akhirnya bunda Mitha saya rujuk
mengingat kondisi janinnya tidak
memungkinkan untuk tetap saya rawat di
Bidan Kita. Sesampai di Rumah Sakit,
setelah beberapa treatment yang mereka
lakukan maka detak jantung janin
kembali normal. Sekitar 5 jam, menunggu
ternyata pembukaan hanya tambah ½
cm saja. Dan kepala janinpun tidak mau
turun ke dasar panggul. Hal inilah yang
akhirnya menyebabkan sang dokter
memutuskan untuk melakukan operasi
sesar. Dan ternyata ketika di lakukan
operasi, sang bayi mengalami lilitan tali
pusat sebanyak 3 kali lilitan dan ketat.
Hal inilah yang ternyata menyebabkan
kepalanya tidak mau turun dan
pembukaannya berjalan begitu lambat.
Karena Bunda Mitha sudah dipersiapkan
mentalnya untuk menghadapi segala
kemungkinan dalam persalinan, dima adia
belajar tentang kesabaran, pasrah,
kebaikan, maka justru di proses operasi
sesar yang kedua ini dia tidak mengalami
trauma. Dan mampu melihat semua
peristiwa dari kacamata yang positif.
Dan saya sangat bersyukur untuk hal ini.
Kita tahu dan kita tidak bisa memungkiri
bahwa terkadang ada sesuatu yang
terjadi diluar harapan kita ketika dalam
proses persalinan dan kelahiran. Nah
belajar untuk mempersiapkan mental dan
spiritual untuk menghadapi proses
persalinan adalah mutlak diperlukan
untuk Anda calon orang tua.
Selamat memberdayakan diri
Salam Hangat
Yesie Aprillia
Resource:
- Aprillia, Yesie. Hipnostetri. Jakarta;
Gagas Media, 2010
- Aprillia, Yesie. Siapa Bilang
Melahirkan Itu Sakit, Yogyakarta; Andi
Offset, 2011
- Aprillia, Yesie. Gentle Birth, Jakarta;
Grasindo, 2012
- Aprillia, Yesie. Art Of Waterbirth,
Jakarta; Grasindo 2013
- Balaskas, Janet. Active Birth.
Boston: Harvard Common Press, 1992
- Boston Womens’s Health Book
Collective. Our Bodies, Ourselves:
Pregnancy and Birth, Newyork:
Touchstone, 2008
- Bardacke, Nancy. Mindful Birthing;
Training The Mind, Body, and Heart For
Childbirth and Beyond. New York;
HarperCollins Publisher, 2012
- Biyth, Jenny. Birthwork; a
compassionate guide to being with birth.
Queensland, 2007
- Chopra, Deepak. A Holistic Guide to
Pregnancy And Childbirth; Magical
Beginnings Enchanted Lives. USA: Three
Rivers Press, 2005
- Chamberlain, David. The Mind of
Your Newborn baby, 3d edition.
Berkeley, Calif.: Nort Atlantic Books,
1998
- Dick- Read, Grantly. Childbirth
Without Fear: The prinsciples and
Practise of Natural Childbirth, London:
Pinter & Martin, Ltd., 2004
- England, Pam. Birthing From Within.
USA, Partera Press, 1998
- Gaskin, Ina May. Ina May’s Guide to
Childbirth. New York; Bantam Books,
2003
- Gaskin, Ina May. Spiritual
Midwifery, 4th edition, Summerville,
Tenn: book publishing Company, 2002.
- Germain, Blandine Calais. Preparing
for a Gentle Birth, Healing Arts Press.
2009
- Goer, Henci. The Thinking Woman's
Guide to a Better Birth (Paperback).
Penguin Putnam Inc , 1999
- Gurmukh Kaur Khalsa. Bountiful,
Beautitul, Blissful: Experience the
natural Power of Pregnancy and Birth
with Kundalini Yoga and Meditation. New
York: St. Martin’s Press. 2003
- Harper, Barbara. Gentle Birth
Choices, Healing Art Press, 2005
- Klaus, Marshall H., John H. Kennell,
and Phyllis H. Klaus. The Doula Books;
How a trained Labor Companion Can Help
You Have a Shorter, Easier and Healthier
Birth. USA: Perseus Publishing, 2012.
- Kitzinger, Sheila. The Complete Book
of Pregnancy and Childbirth; New
Edition. New York; Alferd A. Knipf, 1997
- Kitzinger, Sheila. Rediscovering
Birth. New York; Pocket Books, 2000.
- Lothian, Judith and Charlotte
DeVries. The Official lamaze Guide;
Giving Birth with Confidance. New York;
Meadowbrook Press, 2010
- Laboyer, Frederick. The Art of
Giving Birth; With chanting, Breathing
and Movement. German, Healing arts
Press, 2006
- Northrup, Christine. Women’s Bodies,
Women’s Wisdom. New York; Bantam,
1994
- Newman, Robert Bruce. Calm Birth;
New Method for Conscious Childbirth.
North Atlantic Books, Berkeley,
California. 2005
- Odent, Michel. Birth Reborn. New
York; Birth Works, 1994
- Odent, Michel, The Scientification of
Love. London, Free Association Books,
1999
- Sears, William, and Martha Sears.
The Baby Book; Everthing You Need to
Know Help a Woman Through Childbirth.
Boston; Harvard Common Press, 1989
- Simkin, Penny. The Birth Partner: A
complete Guide to Childbirth for Dads,
Doulas, and All Other Labor Companions.
Massachusetts: Havard Common Press,
2008
- Susan Mc Cutcheon, Natural
Childbirth the Bradley Way, a Plumm
book, 1996

OTORITAS ATURAN (seri AYAH KEPSEK bagian 5)

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

“ANJ*NG…BAB*…BANG*AT”

Sengaja kalimat itu saya sensor. Anda tentu sudah bisa memahami apa isinya. Itu bukan kalimat dari seorang pejabat populer di negeri ini yang lagi memarahi anak buahnya. Sama sekali bukan. Percaya atau tidak, kalimat itu berasal dari seorang remaja kepada ibu kandungnya. Sebut saja bunga. Bukan bunga citra lestari lho. Apalagi bunga bangkai :). Dia ngamuk-ngamuk via akun facebooknya akibat laptop kesayangannya rusak kena air tumpahan dari ibunya. Dan meluncurlah segala jenis cacian kepada ibunya layaknya petugas kebun binatang yang sedang mengabsen penghuni satwa di dalamnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka bukan sedang mencari sensasi. Atau belajar akting untuk dapat tampil di TV. Kalau cuma mau masuk TV modalnya gampang kok. Tak perlu caci maki ortu sendiri. Cukup bisa tepuk tangan, sedikit menggoyangkan pinggul dan menghentakkan kaki seraya meneriakkan yel “la la la..ye ye ye” berkali-kali. Itu sudah cukup meloloskan mereka sebagai penonton bayaran di stasiun TV. Dan jika mereka beruntung, bisa diajak tampil ke atas panggung oleh HOST sambil disiram air atau tepung. Tragis!

Tapi bukan itu inti pembahasan kita. Yang jelas, ketika seorang anak berani mencaci maki ibunya, itu pertanda hilangnya ikatan batin antara ibu dan anak yang dikenal dengan istilah mother distrust. Faktornya bisa macam-macam. Namun dari sisi pengasuhan ada dua hal yang bisa disorot :

Pertama, proses menyusui yang salah di saat anak berumur 0-2 tahun. Dimana si ibu hanya mampu memberikan asupan fisik saja berupa ASI kepada anak. Namun mengabaikan asupan psikis. Anak tak mendapatkan belaian dan dekapan yang cukup saat disusui. Tersebab ibu merasa tugasnya tertunaikan dengan memberi susu meski hanya lewat botol. Akibatnya fisik anak bisa jadi tumbuh subur namun jiwanya kerdil. Tak ada ikatan batin dengan ibunya. Badannya bongsor tapi kelakuan kayak bocah. Kata-katanya gak jauh dari ‘Miapah? Macacih? Udah maem tiang belom?’ (Maksudnya sih makan siang). Helloww! Yang maem tiang mah ultraman!. Hadeuuh, Benar-benar  seperti bayi. Sama ibunya gak punya jiwa empati. Saat ibunya kelelahan ia cuek. Ibu bermuka masam karena marah malah dipuji ‘Mama cool banget!’. Tak paham bahwa ibunya sungguh tersiksa batinnya.

Faktor Kedua, mengambil peran ayah – dan ini yang akan kita bahas- yakni sebagai pemilik otoritas aturan. Ibu yang khawatir akan pengasuhan anaknya biasanya cenderung memprotect anaknya dengan segudang aturan.
“JANGAN PULANG MALAM-MALAM!”
“JANGAN NONTON TV LAMA-LAMA!”
“JANGAN PAKAI BAJU GAMBAR HELLO KITTY. PAKAI SPONGE BOB AJA!”
“CUCI KAKI DAN TIDUR SEBELUM JAM 9”
“MAKAN SAYUR DAN BUAH!”
“JANGAN IKUT DEMO!”

Dan sederet aturan lainnya. Mulai dari yang berat sampai yang remeh seperti selera makan anak pun diatur. Dan inilah yang justru menjadi tren di kalangan ibu-ibu modern.  Akibatnya fungsi dasar ibu dalam memberikan rasa nyaman pun hilang. Anak menjauh dan tak nyaman bersama ibunya. Sehingga lebih betah di luar bersama kawannya dan mudah terperosok dalam pergaulan yang rusak. Tak peduli apa kata orangtua.

Tapi  jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa ibu lah yang salah dalam hal ini. Saya katakan tidak. Ibu yang mengambil otoritas aturan dalam rumah tangga akibat dari fungsi ayah yang hilang. Sementara ibu dituntut untuk menjaga buah hatinya. Ditambah seringnya ibu yang menghadiri seminar parenting yang malah menambah was was karena pembicaranya banyak memberikan data-data yang mencemaskan. Maka jadilah ibu memprotect anaknya. Ayah tak mau tau dalam hal ini. Padahal tugas dasar ayah sebagai kepala sekolah adalah menegakkan aturan. Ayahlah sang pemilik aturan. Dan ibulah pusat rasa nyaman bagi anak.

Ayah yang tak mau menegakkan aturan dalam rumah pada dasarnya menzholimi si ibu juga anak. Membiarkan anak dengan kesalahannya dan mencabut fungsi dasar ibu sebagai pemberi rasa nyaman. Terlebih jika ayah ikut-ikutan menyalahkan sang ibu. Lengkaplah predikat ibu sebagai ‘musuh’ bagi anak. Ingat. Petaka pertama pengasuhan : ketika ibu tak lagi dicintai dan dirindukan oleh buah hatinya.

Maka, ayah harus pulang. Terlibat dalam pengasuhan. Tunjukkan otoritas dan ketegasan. Tapi gak perlu bawa-bawa pentungan. Emangnya mau tangkap maling? :D Jangan biarkan ibu yang ambil alih fungsi ini. Biarlah anak merasa ayahnya galak dan tegas. Karena memang inilah the real father. Asalkan anak merasa nyaman dengan ibunya, itu lebih baik. Saat protes dengan keputusan ayah, ibulah yang menenangkan dan menguatkan.

Inilah keseimbangan dalam pengasuhan. Ayah sebagai pemilik otoritas aturan bertugas menjaga anak dari pengaruh buruk lingkungan. Dan ibu sebagai pemberi rasa nyaman menjadi daya pikat anak untuk selalu pulang. Tentu ayah yang tegas juga harus diimbangi dengan kelembutan dan kebaikan di sisi yang lain agar anak tidak trauma. Begitu juga ibu. Sesekali bolehlah ibu bawel asal jangan kebablasan. Kalaupun ibu mau tegakkan aturan, cukup dengan kalimat “Ingat gak, ayah bilang apa?”.  Anak tahu bahwa aturan bukan dari ibunya tapi dari si ayah. Jika fungsi ayah serius dijalani, maka tak ada lagi kalimat resah dari si ibu : ‘pusiiiing pala barbie’. Sebab ayah telah kembali. (selesai)