Sabtu, 06 Juni 2015

Asuransi Terbaik

��Asuransi Terbaik

Ditulis oleh Budi Ashari

Asuransi Terbaik

 

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah. Semoga Bermanfaat

Iman kepada hari akhir

����������������������

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bunda-bunda solihat....

Tema diskusi kita hari ini adalah
��Iman Kepada Hari Akhir��

Sebelum berdiskusi, berikut secuplik artikel yang bisa kita pelajari bersama

����������������������

Hidup di Dunia Hanya Sementara

����������

Qur'an Surat An-Naml(27): 1-5
27.An-Naml : 1

طس ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ

Tho Sin. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an, dan Kitab yang jelas,

27.An-Naml : 2

هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman,

27.An-Naml : 3

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.

27.An-Naml : 4

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.

27.An-Naml : 5

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksaan buruk (di dunia) dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling rugi.

Manusia tinggal di dunia hanya sementara dan waktu yang singkat. Kemudian menuju kehidupan akhirat tempat tinggal selamanya.

Harta benda serta kesenangan di dunia walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat. Alloh menegaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan (QS Al Hadid(57):20 dan QS Ali Imran(3):14-15).
Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan dengan  kehidupan abadi di akhirat. Untuk menggambarkan hal inu, dalam Bahasa Arab, dunia memiliki konotasi "tempat yang sempit, gaduh dan kotor". Manusia menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat memuaskan dan sangat panjang.
Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahat. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu didunia. Pada hari dibangkitkan, Alloh akan bertanya kepada manusia, seperti tertulis dalam QS Al Mu'minun(23): 112-115.

����������

"Dia (Alloh) berfirman,"Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab,'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah pada mereka yang menghitung.' Dia (Alloh) berfirman,'Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" QS Al Mu'minun(23): 112-115

"Mereka (orang-orang kafir) bertanya padamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, "Kapankah terjadinya?," Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya)." QS An Nazi'at(79): 42-44)

Ralika
HSMN.TimTemaDiskusi@gmail.com

Sumber:

Syaamil Al-Quran Miracle The Reference. Sygma Publishing. Bandung. 2010.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
��������hsmn��������
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��FB: Seminar MAMS (HS Muslim Nusantara)

�� instagram: @hsmuslimnusantara

�� twitter: @hs_muslim_n

�� web:
hsmuslimnusantara.org

��FB Fanpage: Homeschooling Muslim Nusantara

��FB Fanpage: Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga

��������������������

Bagaimana Bunda menceritakan kepada buah hati tentang iman kepada hari Akhir? Adanya Surga dan Neraka?
Mari berbagi akan ilmu dan hikmah yang Alloh beri....

������������������������������

Jangan lupa di ikuti kuis ke Facebook, Instagram dan atau Twitter untuk mendapatkan hadiah tiket gratis Senilai Rp.375.000,- Menuntun Anak Menyongsong Syurga, 30 Mei, gd Indosat pusat, Jakarta

Membuat celengan gedung bertingkat

����������������������

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bunda-bunda solihat....

Tema diskusi kita hari ini adalah

��CRAFT DAY: Mengajarkan Anak Menabung: Membuat macam-macam celengan��

Berikut adalah salah satu contoh membuat celengan...

����������������������

Tema:

����Kompleks Celengan Gedung Bertingkat����

Usia:
5-10 tahun

Tujuan pembelajaran:
��mengajari Anak menabung dgn beberapa kategori
��mengajari motorik halus
��mengasah kreatifitas
��memanfaatkan barang bekas
��mengajarkan  anak berinfak

Bahan dan alat

#kardus bekas susu murni
#kertas bekas poster
#kertas warna warni
#gunting
#lem
#alat tulis

Proses
1. 4 buah Kardus bekas susu dibuat lubang untuk memasukkan uang, lalu dibunkus dengab menggunakan kertas bekas poster dalam posisi terbalik, sehingga berwarna putih, sehingga menjadi celengan berwarna putih
2. Keempat kardus tadi di hias sesuai selera, dalam hal ini dibuat hiasan berbentuk jendela-jendela sehingga menjadi berbentuk gedung bertingkat
3. Diberikan Plang nama pada setiap celelengan gedung bertingkat:
3.a. Infak : untuk berinfak
3.b. fun : untuk keperluan tersier (mainan,sepeda dll)
3.c. Bank : untuk membeli buku, elektronik dll
3.d. Qurban : untuk uang Qurban

4. Dibuat hiasan jalan raya, tanaman, mobil dll.

5. Jadilah sebuah "kompleks celengan gedung bertingkat"

Ralika
HSMN.TimTemaDiskusi@gmail.com

Sumber:
Dokumentasi Pribadi Bunda NadhiraNasywaNazhim

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
��������hsmn��������
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

��FB: Seminar MAMS (HS Muslim Nusantara)

�� instagram: @hsmuslimnusantara

�� twitter: @hs_muslim_n

�� web:
hsmuslimnusantara.org

��FB Fanpage: Homeschooling Muslim Nusantara

��FB Fanpage: Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga

��������������������

Yuk berbagi tentang pengalaman dan kegiatan belajar dgn buah hati

����������������������
SOP Dokumentasi kegiatan belajar anak
Tema:
Usia:
Tujuan pembelajaran :
Bahan:
Cara membuat:
Proses dan hasil belajar:
Tdk diperkenankan hanya menshare foto selfie anak2nya saja

������������������������������

Jangan lupa di upload ke Facebook atau Instagram untuk mendapatkan hadiah tiket gratis Menuntun Anak Menyongsong Syurga, 30 Mei, gd Indosat pusat, Jakarta

Jumat, 05 Juni 2015

Delapan Belas Dua Puluh Satu

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pelatihan Orangtua di 25 Propinsi 7 Negara

“Anak saya rusak gara-gara terpengaruh temannya!”. “Anak saya kena narkoba gara-gara terpengaruh si Aziz temannya!”. “Anak saya jadi membangkang gara-gara sejak bergaul dengan si Anu!” Pernah dengar perkataan orangtua seperti ini? Orangtua yang menyalahkan lingkungan pergaulan atas perilaku anaknya yang bermasalah? 

Ayah Ibu, ketahuilah anak-anak bermasalah seperti itu memang bermasalah karena pengaruh pergaulan atau temannya. Tetapi itu sebenarnya hanya akibat, bukan penyebab utama. Lalu siapa penyebab utamanya? Ya orangtualah!

Anak-anak itu sejak 0 tahun lebih duluan kenal orangtua atau temannya? Orangtuanya kan? Lebih lama hidup dengan orangtua atau temannya? Orangtuanya kan?! Jadi karena orangtua lebih duluan kenal anak, lebih lama hidup dengan anak, daripada dengan teman-temannya, maka menurut Anda pengaruh siapa yang seharusnya lebih besar? Orangtua atau teman? Tentu orangtua bukan? 

Jadi, jika ada anak lebih terpengaruh teman bukan terpengaruh orangtua, tandanya apa? Tandanya orangtua tak memberikan pengaruh. Mending jika pengaruh temannya positif, bagaimana jika pengaruh temannya negatif? Musibah. 

Ini tidak berarti anak yang lebih terpegaruh teman, orangtuanya tidak mempegaruhi. Saya yakin sebagian besar orangtua yang anak bermasalah di dunia sudah mencoba mempengaruhi anak. Tapi pengaruhnya tidak masuk! Kenapa tidak masuk? Karena sebagian orangtua memberikan pengaruh pada anak, pendekatannya tidak tepat! 

Seperti gelas yang terus diisi air terus menerus. Jika isi air tidak pernah dikeluarkan apa yang akan terjadi dengan gelas, jika gelas itu terus diisi air? Tumpah kan? Jika tumpah artinya air ini masuk tidak ke dalam gelas? Karena gelasannya kepenuhan. Bayangkan jika gelas itu anak dan air itu adalah “pesan-pesan” kebaikan orangtua.

Jadi lingkungan pergaulan itu sebenarna tak berpengaruh ya terhadap perkembangan anak? Saya tidak mengatakan itu! Pengaruah lingkungan pergaulan anak menjadi kecil atau besar bergantung seberapa “masuk” pengaruh orangtua yang diterima anak.

Andaikan isi gelas itu 100% maka tinggal dihitung saja, jika pengaruh orangtua lebih banyak yang masuk maka otomatis pengaruh lingkungan pergaulan akan kecil. Tetapi sebaliknya, jika pengaruh orangtua lebih sedikit maka otomatis pengaruh lingkungan pergaulan anak akan memiliki pengaruh lebih besar. 

Bagaimana agar anak lebih terpengaruh orangtua bukan terpengaruh oranglain? Apalagi lingkungan pergaulan yang buruk? 

Ada banyak yang harus dilakukan orangtua di rumah. Saya menjelaskan panjang lebar dalam kelas-kelas belajar bersama saya. Tapi saya di sini ingin mengungkapkan satu saja: berikan waktu anda untuk anak!

Ada banyak waktu baik untuk kita bisa mempengaruhi anak kita, sebelum anak kita dipengaruhi orang lain. Waktu terbaik pertama adalah saat di pagi setelah subuh sampai menjelang berangkat kerja bisa jadi adalah waktu terbaik untuk mereka, terutama untuk para ayah yang bekerja. 

Jika di siang hari jelas orangtua tidak bisa mendampingi karena tengah di kantor atau menjalankan tugas kerja di lapangan. Di sore hari bisa jadi malah menjadi sisa: tenaga sisa, waktu sisa! Apakah yakin bisa optimal? (tulisan ini sudah dijelaskan panjang lebar di tulisan saya yang lain dengan judul “Quality Time di Pagi Hari”). 

Waktu di pagi hari adalah waktu yang sebaiknya kita berikan untuk anak kita setiap hari, tanpa harus menunggu akhir pekan saat hari libur tiba. Jika hanya saat ibur kita 2 hari kita berikan dan kerja 5 hari tidak, jangan-jangan anak kita 5 hari terpengaruh orang lain, hanya 2 hari terpengaruh kita? Rugi dong! Mending jika yang mempengaruhinya adalah pengaruh baik dari sekolah atau teman pergaulan yang baik, lah kalau tidak? 

Waktu terbaik kedua adalah antara jam 18 sampai jam 21 malam. Karena itu saya berikan judul tulisan ini adalah DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU. Megapa DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU?

Pertama, waktu itu adalah waktu dimana sebagian besar anggota keluarga biasanya berkumpul. Saat di siang hari, Salah satu orangtua (ayah atau ibu) atau mungkin keduanya sedangkan bekerja. Atau anak-anak juga sekolah untuk yang sudah sekolah. Sore hari? Biasanya anak-anak masih merasa kelelahan, demikian juga orangtua. Maka waktu antara magrib sampai menjelang tidur adalah menjadi pilihan. 

Kedua, saat bangun tidur dan hendak tidur, adalah waktu dimana gelombang otak anak dalam keadaan santai. Orang-orang yang mengkaji neurologhy biasanya menyebut dengan sebutan gelombang alpha. Saat mau tidur dan bangun tidur, biasanya tubuh anak dalam keadaan tenang, pikiran pun mengikuti keadaan tubuhnya, tenang. Maka nilai-nilai orangtua yang akan ditembakkan pada anak saat momen ini bisa menjadi salah satu momen terbaik untuk mempengaruhi hidup anak.

Di rumah saya, sekeluarga makan malam itu dibiasakan sebelum magrib. Maka DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU adalah waktu dimana ada banyak kelapangan antaranggota keluarga saling berinteraksi dan mempengaruhi. 

Setelah sholat magrib yang wajib berjamaah (anak laki-laki di masjid) dan anak perempuan di rumah. Selama 2-3 jam selanjutnya ada banyak kegiatan BERSAMA yang dapat dilakukan. Yang menjadi SOP (standar) wajib pertama adalah tadabbur Qur’an. S1 wajib membimbing S2 (lima anak saya semuanya berawal dari huruf “s” jadi kami sering menyingkat s dengan urutan angka) . S2 membimbing S3. S4 dan S5 belum diberikan kesempatan belajar. Sedangkan S1 dibimbing ayahnya atau ibunya. 

Orang-orang mungkin menyebutnya dengan sebutan MAGRIB MENGAJI. Untuk soal ini kami bersikukuh harus orangtuanya yang membimbing, bukan “outsourcing” kepada yang lain. Bahwa anak-anak juga belajar di sekolahnya, itu kami anggap sebagian bantuan penting. 

Jika masih ada waktu menjelang isya, kami bebaskan anak-anak untuk bermain dengan saudaranya. (kecuali anak yang besar yang sibuk yang membuat saya sedih “karena dia terus berkutat dengan buku-buku latihan soalnya, menjelang ujian). 

Sop wajib kedua sepanjang DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU adalah bercerita, mendongeng atau berkisah. Biasanya dilakukan setelah sholat Isya agar waktunya panjang. Bisa ngarang sendiri, bisa baca dari buku-buku yang ribuan buku sudah tersedia di rak-rak yang memenuhi rumah, bisa dari internet, bisa dari cerita yang didapatkan waktu kita kecil. Kadang mempelajari isi dan makna ayat dibalik ayat yang anak-anak baca (tinggal buka tafsirnya yang sudah tersedia). 

Kegiatan ketiga, tambahan selama DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU adalah ngobrol, diskusi dan cerita soal kegiatan-kegiatan mereka dari pagi sampai sore. Yang bikin senyum, yang bikin ketawa. Anak-anak wajib cerita 1 cerita/kegiatan agar jadi pembiasaan untuk komunikasi terbuka (curhat). 

Kegiatan keempat sepanjang DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU adalah MENGERJAKAN TUGAS TERAKHIR. Dalam rangka mengembangkan “respect and responsibility” di rumah sejak usia 7 tahun anak-anak saya wajib dilatih mengembangkan 12 kompetensi sederhana di rumah yang akan berguna untuk dirinya sendiri kelak di masa depan. Diantara 12 kompetensi itu salah satunya adalah terampil terlibat dalam kegiatan rumah tangga. Hasil “syuro” anak-anak sendiri yang saya ingat ini tugas mereka:

S1: membereskan meja makan, membereskan sepatu/sandal di luar rumah, mencuci piring sore Jum’at-Minggu
S2: membereskan mainan, mengunci pagar dan pintu depan, mematikan lampu-lampu, mencuci piring sore Selasa-Kamis 
S3: membereskan buku-buku, menyiapkan air putih untuk setiap kamar (agar tak perlu ke dapur jika terbangun tengah malam kehausan). 

Membangun kemandirian dan tanggung jawab tidak dapat dilakukan setahun dua tahun apalagi sehari dua hari. Ini membutuhkan waktu tidak sebentar. Maka mumpung mereka masih hidup dengan saya, hadir di dekat saya, saya harus membimbing mereka untuk setidaknya bertanggung jawab setidaknya pada dirinya sendiri. Syukur-syukur kepada orang lain. Jika anak sudah bertanggung jawab pada dirinya sendiri, setidaknya jika tidak bermanfaat untuk orang lain, saya berharap anak saya tidak menyusahkan hidup orang lain. Semoga.

Meski memiliki asisten rumah tangga, tidak menghalangi saya untuk melatih anak-anak saya melakukannya. Saya tidak mau anak-anak saya "dilemahkan" hanya gara-gara kehadiran asisten rumah tangga. 

Bahkan di rumah saya, anak-anak "diharamkan" meminta bantuan asisten rumah tangga untuk hampir semua urusan sepanjang mereka dapat melakukannya sendiri. Saya sering bilang "Bibi sama Mang supir kerja sama Abah Umi, digaji sama Abah Umi, bukan sama kalian. Maka kalian tak berhak untuk memerintah Bibi dan Mang."

Mereka diperbolehkan meminta bantuan dengan syarat: pekerjaan tidak bisa mereka lakukan sendiri, meminya izin abah ummi, meminta dengan sopan "boleh minta tolong?"

Satu hambatan harus disingkirkan agar pengaruh kita benar-benar serius masuk menjadi fikroh anak yaitu kompetitor kita di rumah: gadget dan segala jenis barang elektronik.

Bukti keseriusan, pada saat DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU, terapkan no gadget (no bbm, no facebook, no intetnet) no tv! Turn off all that stuff! Boleh buka barang itu setelah Lewat DELAPAN BELAS DUA PULUH SATU yaitu ketika anak-anak sudah tidur. Berani?!

https://www.facebook.com/ParentingSchool/posts/10153169524109029